Masih Ada Asa Dongkrak Produksi Padi Cetak
Berita
Oleh admin   
Kamis, 07 Agustus 2014 06:56

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Dr. Haryono)Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka produksi padi nasional. Berdasarkan angka ramalan I (ARAM I) produksi padi tahun 2014 sebesar 69,871 juta ton GKG. Jumlah terssebut menurun 1,409 juta ton GKG atau 1,98%, dibandingkan angka tetap (ATAP) 2013 sebanyak 71,280 juta ton GKG.

Dengan produksi padi 69,871 juta ton GKG dan jumlah penduduk 252.164.800 jiwa pada 2014, maka secara nasional surplus beras mencapai 4,195 juta ton. Hubungan tersebut dengan asumsi konsumsi menggunakan angka 139,15 kg perkapita per tahun. Pemerintah sendiri telah menargetkan surplus 10 juta ton pada tahun 2014.

Meski predidksi BPS menurun, namun kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Dr. Haryono optimis, masih ada peluang meningkatkan produksi padi, baik melalui peningkatan produktivitas dan tambahan luas tanam. Apalagi ARAM I BPS hanya menghitung produksi padi selama musim tanam Oktober 2013 – April 2014 dan masih ada pertanaman selama Mei -  Desember.

“Saya optimis kita masih bisa meningkatkan produksi hingga diatas 69 juta ton GKG, terutama dengan optimalisasi standing crop yang ada. Ini pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan dan menjadi prioritas 100 hari kerja terakhir Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua” katanya usai Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Bogor beberapa hari yang lalu.

Haryono mengatakan, dari sisi produktivitas masih terbuka peluang meningkatkan produksi karena saat ini rata-ratanya masih sekitar 5,16 ton/ha, padahal potensi produktivitas tanaman padi yang ditanam mencapai 8 ton/ha.

“dengan rasionalitas dan pertimbangan, jika produktivitas bisa naik dari 5,16 menjadi 6 ton/ha saja, maka akan ada tambahan produksi padi yang luar biasa.” Ujarnya. Kalkulasinya, dengan luas tanam selama satu tahun sekitar 13 juta ha, maka dengan peningkatan produktivitas 1 ton/ha, akan ada tambahan produksi sekitar 13 juta ton. “jadi dari sisi produktivitas masih sangat memungkinkan.” Tambahnya.

Sementara itu, saat jumpa pers dengan forum wartawan pertanian, Haryono mengatakan berbagai upaya pencapaian sasaran produksi padi terus dilakukan seperti pengamanan pertanaman dari kekeringan dan serangan OPT, percepatan panen, olah tanah dan tanam terutama I daerah irigasi teknis dengan mengoptimalkan alat mesin pertanian yang ada, juga bekerjasama dengan TNI. Penanaman padi verietas tertentu juga dilakukan, seperti genjah untuk toleran kering (kurang air), varietas Inpari 1, 2, 10, 19 dan 20 untuk wilayah kurang terjamin air irigasinya (rawan kekeringan) pada musim kemarau.

Upaya lainnya yang dilakukan adalah penerapan teknologi irigasi berselang (intermitren), mobilisasi pompa air untuk pemanfaatan air tanah di daerah yang memungkinkan untuk peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan daerah rawan kekeringan.

Haryono mengatakan, peluang lain yang bisa mendongkrak produksi padi nasional adalah perluasan areal tanam. Pemerintah akan mendorong pemanfaatan lahan sawah hasil cetak baru, lahan rawa dengan varietas unggul baru produktivitas tinggi, gerakan tanam jajar legowo secara serentak.

Peningkatan koordinasi dalam penyediaan sarana produksi utamanya pupuk dan benih juga akan terus diupayakan, termasuk juga pengawalan dan pednampingan pelaksanaan penerapan paket teknologi dan peningkatan pengamatan, pengendalian seranga OPT dan mitigasi dampak perubahan iklim terutama kekeringan.

Sumber : Sinar Tani edisi 6-12 Agustus 2014