Kalangkala Sayuran sekaligus Obat dari hutan Kaltim Cetak
Berita
Oleh Sumarmiyati   
Minggu, 20 Mei 2018 09:05

Kalangkala (Litsea angulata) merupakan salah satu spesies dari Genus Litsea yang termasuk ke dalam family Lauraceae. Kalangkala dapat hidup di daerah tropis dan subtropis hingga ketinggian 300 m. Tumbuhan ini tersebar di Malaysia (Sarawak dan Sabah), Sumatra, Jawa, Kalimantan Selatan , Kalimantan Timur, Moluccas, dan New Guinea (Slik , 2006)

Buah Kalang kala ini merupakan salah satu buah yang menjadi kekayaan alam bumi Kalimantan. Kalangkala banyak tumbuh dihutan pedalaman. Buah ini banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional di Kalimantan Timur.

Deskripsi :

Di dalam klasifikasi tumbuhan, Kalangkala tergolong ke dalam super divisi Spermatophyta (Tumbuhan biji), sub divisi Mangnoliophyta (Tumbuhan berbunga), kelas Mangnoliopsida (Tumbuhan berkeping dua/dikotil) dan sub kelas Mangnoliidae. Tanaman ini tergolong ke dalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon tinggi 10 – 20 m. Percabangan jarang tidak terlalu rapat. Daun tunggal, besar, bentuk memanjang. Buah berbentuk bulat, kulit buah lunak, separoh buah ditutup oleh kelopak buah yang keras berwarna hijau. Kulit buah muda hijau, berangsur-angsur merah kalau matang. Daging buah lunak, berwarna putih. Biji berbentuk bundar, keras berwarna coklat.

Manfaat :

Kalangkala merupakan buah yang memiliki citarasa eksotis bagi para penggemarnya. Cara mengolah buah kalangkala sangat sederhana. Kalangkala dicuci hingga bersih. Kemudian cukup direndam dengan air hangat (± 600) serta ditaburi garam secukupnya. Direndam minimal selama satu jam sebelum dihidangkan. Semakin lama proses perendaman rasa dari buah kalangkala semakin nikmat, fermentasi buah kalangkala ini dipercaya oleh orang Banjar dapat meningkatkan nafsu makan.

Sebagian masyarakat Kalimantan Timur juga menggunakan biji buah kalangkala secara tradisional sebagai obat bisul. Biji kalangkala diduga memiliki aktivitas biologi sebagai antibakteri. Keaktifan ini kemungkinan disebabkan karena biji kalangkala mengandung komponen metabolit sekunder. Penelitian terakhir menemukan bahwa kalangkala mengandung komponen kimia yakni alkaloid dan tanin. Alkaloid dan tanin yang bersifat stimulan terhadap tubuh manusia (Feng et.al., 2009)

Sumber :

Feng, T., Y. Xu, X.H Cai, Z.Z. Du, X.D. Luo. 2009. Antimicrobially active isoquinoline alkaloids from Litsea cubeba. Planta Medica.

Slik J.W.F. 2006. Trees of Sungai Wain. http://www.nationaalherbarium.nl /sungaiwain/main.htm.