Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
pustaka
Katam
wbs
Suplemen Sinta
upg

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini244
mod_vvisit_counterKemarin774
mod_vvisit_counterMinggu ini4768
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir7397
mod_vvisit_counterBulan ini18090
mod_vvisit_counterBulan Terakhir28118
mod_vvisit_counterSemua hari1085645

Online (20 menit yang lalu): 11
IP Anda: 3.85.245.126
,
Hari ini: 18 Okt, 2019
Info Teknologi
Melanjutkan Kejayaan Ciherang dengan Inpari 13 PDF Cetak E-mail
Oleh admin   
Jumat, 05 September 2014 06:58

Lebih satu dekade lamanya, padi Ciherang menjadi pilihan mayoritas petani di Indonesia. Bahkan hingga saat ini banyak petani di beberapa daerah yang bersikukuh menanam Ciherang. Perubahan iklim dan berkembangnya organisme penganggu tanaman (OPT), membuat lifetime sebuah varietas pun berakhir. Perannya digantikan dengan varietas unggul yang baru yang mampu beradaptasi dengan kondisi agroekosistem saat ini.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) pun merakit ratusan varietas unggul baru untuk menggantikan varietas-vatietas yang memang sudah menurun keunggulanya. Salah satunya adalah varietas Inpari 13 yang dirakit BB Padi untuk meneruskan kejayaan Ciherang yang kini memudar. Varietas unggul tersebut dilepas pada akhir tahun 2009. Menurut kepala BB Padi, Dr. Made Jana Mejaya, Inpari 13 (Inpari = Inhibrida Padi Irigasi) berumur genjah, dapat dipanen pada umur 103 hari. Jika Ciherang hanya tahan wereng coklat biotipe 1 dan tidak tahan dengan biotipe 2 dan 3 maka Inpari 13 tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2 dan 3.

Selain tahan hama wereng coklat, Inpari 13 tahan penyakit blas yang dapat menyebabkan turunya produksi padi. Varietas unggul baru yang berumur sangat genjah ini cocok ditanam di lahan sawah irigasi hingga ketinggian 600 m dpl.

Produktivitas Inpari 13 sangat tinggi, potensi hasilnya sekitar 8 ton/ha, lebih tinggi 0,5 ton dibanding Ciherang. Sementara uji coba di sejumlah sekolah lapang, hasilnya bisa mencapai 10,3 ton/ha. Meski di sejumlah daerah di Jawa banyak petani yang sukses menanam Inpari 13 diatas 10 ton/ha, namun rata-rata nasional baru 6,7 ton/ha.

Keunggulan lainya, tingkat kehilangan hasil Inpari 13 hanya 0,23% dan non-tokan sebesar 0,25%. Angka itujauh lebih kecil dibandingkan data BPS untuk padi jenis lain, seperti Ciherang dan IR64 dengan total potensi lose hasil panen mencapai 2,07%, ujar Made.

Inpari 13 merupakan hasil persilangan galur OM606 dan IR18348-36-3-3. Postur tanamannya pendek, rata-rata 103 cm, lebih pendek dibandingkan dengan IR64 dan Ciherang masing dengan tinggi 115-126 dan 107-125 cm. jumlah anakan produktifnya cukup banyak, rata-rata 17 batang per-rumpun, setara dengan Ciherang (14-17 batang).

Sama dengan IR64 dan Ciherang, Inpari 13 juga memiliki pertumbuhan daun tegak, sehingga relatif dapat menghambat burung saat memakan gabah pada malai. Sebagian besar masyarakat menyukai tekstur nasi yang pulen, seperti tekstur nasi Ciherang dan IR64. Tekstur nasi Inpari 13 juga pulen dengan kadar amilosa 22,4%, sedikit lebih rendah dibandingkan denganIR64 dan Ciherang.

Seperti halnya IR64 dan Ciherang, bentuk beras Inpari 13 juga panjang dan ramping, warna gabah kuning bersih dengan tingkat kerintokan sedang sehingga relatif memudahkan petani dalam proses perontokan. Bobot 1.000 butir gabah sebesar 25,2 g.

Dengan produktivitas yang tinggi, jika separo luas tanam di Indonesia ditanami Inpari 13, mak akan terjadi peningkatan produksi minimal sebesar 3 juta ton per tahun. Perlahan namun pasti, Inpari 13 pun makin digemari petani karena produktivitasnya yang tinggi dan rasanya yang pulen. Kini Ciherang pun memiliki pengganti untuk meneruskan kejayaannya.

Sumber : sain indonesia agustus 2014 [Setia Lesmana]

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com