Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
cybex
pustaka
wbs
Suplemen Sinta
Katam

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini52
mod_vvisit_counterKemarin635
mod_vvisit_counterMinggu ini52
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir4128
mod_vvisit_counterBulan ini9688
mod_vvisit_counterBulan Terakhir19784
mod_vvisit_counterSemua hari608448

Online (20 menit yang lalu): 10
IP Anda: 23.20.129.162
,
Hari ini: 18 Nov, 2017
Penambahan Bungkil Sawit dapat meningkatkan Bobot Badan Ternak di Kutai Timur PDF Cetak E-mail
Oleh Dhyani Nastiti   
Senin, 28 Agustus 2017 16:56

Kebutuhan daging Indonesia dari tahun ketahun cenderung meningkat. Sementara peningkatan produksinya relatif lambat dibandingkan dengan peningkatan laju permintaan, sehingga Indonesia harus mengimpor dalam jumlah yang semakin besar. Upaya memacu peningkatan populasi sapi dicanangkan oleh pemerintah dilakukan dengan pendekatan secara terpadu dengan tanaman/perkebunan, utamanya adalah dengan perkebunan kelapa sawit. Hal ini mengingat potensi sumberdaya pakan yang disediakan dari hasil samping industri perkebunan sawit melimpah, murah, kontinyu dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.

Beberapa macam limbah yang berpotensi sebagai pakan ternak adalah bungkil inti sawit (BIS) dan solid sawit. Bungkil inti sawit oleh pabrik bukan merupakan hasil samping yang dibuang tetapi dijual, lain halnya dengan solid sawit, oleh pabrik dibuang di sekitar perkebunan untuk digunakan sebagai pupuk dan oleh manajemen pabrik limbah tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.


Potensi perkebunan kelapa sawit yang demikian besar tersebut membuka peluang untuk pengembangan ternak khususnya sapi potong dalam skala lebih besar yang dapat membantu peningkatan populasi sapi potong guna membantu pemenuhan swasembada daging di Indonesia. Untuk meningkatkan produktivitas ternak perlu didukung dengan inovasi-inovasi teknologi yang siap terap dan dengan penerapan alsintan.

Dengan demikian akan menumbuhkan kegiatan-kegiatan Model bio-industri yang berbasis kelapa sawit-sapi. Kegiatan budidaya sapi yang dikelola secara terpadu dengan industri perkebunaan kelapa sawit dengan memasukkan  inovasi teknologi akan memunculkan industri peternakan yang meliputi industri pembiakan dan penggemukan sapi, industri pupuk organik dan cair, serta industri pakan murah berkualitas yang nantinya akan menumbuhkan kegiatan bio-industri perdesaan lebih menguntungkan karena efisien dan mampu meningkatkan nilai tambah juga akan merangsang para petani/peternak melakukan kegiatan tersebut.

Kegiatan-kegiatan yang efisien berbasis inovasi teknologi tersebut (pakan dan reproduksi) akan memacu peningkatan produksi dan populasi ternak. Kegiatan yang secara ekonomi  menguntungkan karena efisien dan mampu meningkatkan nilai tambah akan merangsang para petani/peternak melakukan kegiatan tersebut. Dengan demikian, kegiatan tersebut mampu menciptakan peluang lapangan kerja baru bagi masyarakat perdesaan.

Pembangunan pertanian mendatang dilakukan melalui  pendekatan pertanian bio-industri berkelanjutan. Pengertian pertanian bio-industri sendiri sebagaimana tercantum dalam Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045 adalah sistem pertanian yang pada prinsipnya mengelola dan/atau memanfaatkan secara optimal seluruh sumberdaya hayati termasuk biomasa dan/atau limbah organik pertanian, bagi kesejahteraan masyarakat dalam suatu ekosistem secara harmonis.

Pada tahun 2015 - 2017 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Timur melaksanakan kegiatan pengembangan “Model Bioindustri Berbasis Kelapa Sawit dan Sapi Potong”  di Desa Manunggal Jaya Kecamatan Rantau Pulung Kabupaten Kutai Timur.  Kegiatan ini dilaksanakan di Kelompok Tani  Sumber Rejeki dengan jumlah sapi 54 ekor.  Luas lahan kelapa sawit di Desa Manunggal Jaya Kecamatan Rantau Pulung Kabupaten Kutai Timur sekitar 50 ha dengan usia tertinggi adalah 7 tahun, dan 5 ha sudah mulai berproduksi.  Untuk pelepah dan daun sawit belum dimanfaatkan secara optimal karena masih memerlukan adaptasi dijadikan pakan ternak.

Sistem Model Bioindustri Berbasis Kelapa Sawit dan Sapi yang dilaksanakan di Kelompok Tani  Sumber Rejeki yaitu : sapi di kumpulkan dalam kandang kelompok sehingga mudah untuk menampung limbah yang ada baik kotoran maupun urine, dan dikelompok tersebut telah dibuat digester biogas, pengolahan biourine dan biokompos.  Untuk produk yang telah dihasilkan adalah pupuk organik cair  dan padat dari kotoran sapi.

Hasil Pengkajian BPTP Kaltim dari 54 ekor sapi yang ada telah bertambah 27 ekor pedet dan 10 ekor sedang bunting.  Bobot  badan sapi antara 164,5 sampai dengan 323 kg dengan BCR antara 3 - 5.  Pemanfaatan bungkil sawit dilakukan untuk konsentrat dengan dosis 1 % dari bobot badan/hari. Selain itu potensi untuk biogas dapat dihitung dari satu satuan (ST) sapi (bobot hidup 250 kg)  menghasilkan sekitar 10,7 kg/hari feses segar (35% bahan kering dan 20 - 27% karbon).  Sisa pakan hijauan yang tidak dikonsumsi berkisar 15 – 25% atau setara 7,5 kg. Jadi untuk setiap 1 STyang dapat digunakan sebagai bahan kompos organik adalah 18,2 kg/hari.  Sementara untuk urine adalah sekitar 7,5 liter/hari/ST.  Namun demikian saat potensi yang ada baru dapat dimanfaatkan sebagian karena masih terbatasnya pemasaran yang ada.  Pengolahan biogas yang ada di kandang sapi kel sumber rejeki memiliki kapaasitas 11 m3 yang dapat dimanfaatkan 3 – 4 rumah tangga (15 – 20 ekor sapi).  Sementara untuk pengolahan biourine kapasitas penampungan adalah 1,9 m3.  Pemanfaatan biourine adalah untuk tanaman sayur, pangan dan sebagainya.

Kegiatan Bioindustri Sapi Sawit di Desa Manunggal Jaya Kecamatan rantau Pulung Kabupaten Kutai Timur

No

Aspek

Keterangan

1.

Komoditas Utama

Sapi potong

2.

Komoditas Integrasi

Kelapa Sawit

3.

Produk Utama

Daging sapi, TBS sawit

4.

Produk Ikutan

Pangan, biofertilizer (kompos, biourie), biogas, pakan ternak

5.

Unsur  teknologi  inovatif  yang diintroduksikan

Biokompos, biourine, formulasi pakan bungkil inti sawit

6.

Cakupan luas kegiatan (skala) :

-    Komoditas (ha)

-    Ternak (ekor)

 

Kelapa sawit  : 50 ha

Sapi potong   : 54 ekor  (pedet : 23 ekor, bunting : 10 ekor)

7.

Inisiasi Kelembagaan :

Pelatihan-pelatihan dan pertemuan kelompok

8.

Permasalahan yang muncul

Masih terbatasnya pasar

9.

Rencana Tindak Lanjut 2018 :

-       Penguatan kelembagaan dan pemasaran produk

 

 

 

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com