Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
upg
Katam
pustaka
Suplemen Sinta
wbs

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini170
mod_vvisit_counterKemarin860
mod_vvisit_counterMinggu ini3059
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5249
mod_vvisit_counterBulan ini16439
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1031231

Online (20 menit yang lalu): 11
IP Anda: 18.232.53.231
,
Hari ini: 21 Agus, 2019
Teknologi Tumpangsari Ubi Kayu dengan Sistem Double-Row PDF Cetak E-mail
Oleh Sundari   
Rabu, 19 Juli 2017 06:31

Di Indonesia, ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan makanan pokok ketiga setelah padi-padian dan jagung. Permasalahan umum pada pertanaman ubikayu adalah produktivitas dan pendapatan yang rendah. Rendahnya produktivitas disebabkan oleh belum diterapkannya teknologi budidaya ubikayu dengan benar, seperti belum dilakukan pemupukan dengan baik. Salah satu teknik budidaya yang dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas ubi kayu adalah dengan menggunakan sistem tanam double row. Kita ketahui luas areal pertanaman ubi kayu masih sangat kurang dan jumlah produksi masih sangat kurang belum memenui standar. Dengan berkurangnya luas areal tanaman ubi kayu dan meningkatnya kebutuhan bahan baku ubi kayu untuk industri makanan dan bio-etanol sementara produktivitas ubi kayu masih rendah, maka solusi yag tepat adalah peningkatan produktivitas per satuan luas. Karena itu penggunaan sistem tanam double row diharapkan akan menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi kekurangan bahan baku ubi kayu di masa mendatang.


Teknologi Sistem tanam double row dirancang untuk memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman ubi kayu sehingga mampu berproduksi optimal. Teknologi sistem tanam double row dirancang dengan pembuatan baris ganda pada pertanaman ubi kayu, yakni jarak antar barisan tanaman 160 cm dan 80 cm dan jarak di dalam barisan sama yakni 80 cm.  Diantara barisan yang berukuran 160 cm dapat ditanami jagung dan kacang-kacangan untuk meningkatkan pendapatan petani. Sistem tanam double row dapat meningkatkan produktivitas ubikayu dari 17,53 ton/ha menjadi 50 – 60 ton/ha atau terjadi peningkatan produktivitas lebih dari 250 % dibandingkan dengan cara tanam konvensional, sehingga teknologi ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan kebutuhan ubikayu di masa datang.

Sistem tanam double row adalah membuat baris ganda (double row), yakni jarak antar barisan 160 cm dan 80 cm, sedangkan jarak di dalam barisan sama yakni 80 cm sehingga jarak tanam ubikayu baris pertama (160 cm x 80 cm) dan baris kedua (80 cm x 80 cm). Penjarangan barisan ini ditujukan agar tanaman lebih banyak mendapatkan sinar matahari untuk proses fotosintesa sehingga pembentukan zat pati ubikayu dalam umbi lebih banyak dan ukuran umbi lebih besar. Selain itu, di antara barisan berukuran 160 cm dapat ditanami jagung dan kacang-kacangan untuk meningkatkan pendapatan petani. Keuntungan lain dari sistem tanam  double row adalah jumlah bibit yang digunakan lebih sedikit, yakni 11.200 tanaman dibandingkan dengan sistem tanam biasa dengan jumlah bibit 18.000 tanaman.

Syarat terpenting pada model penanaman ini adalah penggunaan bibit unggul. Ada banyak tanaman ubi kayu sebagian besar dikembangkan secara vegetatif yakni degan setek. Jenis bahan tanaman (varietas/klon) ubi kayu yag banyak di tanam antara lain adalah varietas UJ-3 (Thailand), Varietas UJ-5 (Cassesart), dan klon lokal (Barokah, Klenteng dan lain-lain). Hasil kajian BPTP Lampung menunjukkan, penggunaan varietas UJ-5 mampu berproduksi tinggi dan memiliki kadar pati yang tinggi pula. Dalam hal ini setek untuk bibit diambil dari tanaman yang berumur lebih dari 8 bulan. Panjang setek yang digunakan adalah 20 cm.

Cara tanam yag banyak digunakan petani adalah sistem tanam rapat dengan jarak tanam 70 x 80 cm. Cara tanam ini memiliki bayak kelemahan antara lain penggunaan bahan tanaman dalam jumlah besar (18.000 batang/ha) da produktivitas rata-rata masih rendah (18-22 ton/ha). Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan sistem tanam double row dengan menggunakan varietas UJ-5 mampu menghasilkan ubi kayu 45-55 ton/ha.

Tanah diolah sedalam 25 cm dapat dilakukan dengan mencangkul, membajak atau dengan ternak dan traktor. Dibuat guludan atau bedengan dengan jarak ganda yaitu 80 cm dan 160 cm. Pemupukan diberikan dengan dosis 200 kg Urea + 150 kg SP36 + 100 kg KCl dan 5 ton pupuk organik (Petroganik) per hektar. Pada musim tanam berikutnya dosis pupuk organik dikurangi menjadi 3 ton/ha. Pemupukan Urea dilakukan 2 kali, yakni pada umur 1 bulan dan 3 bulan, sedangkan SP36 dan KCl diberikan 1 kali pada umur 1 bulan setelah tanam. Pemberian pupuk organik dilakukan pada sekitar perakaran pada umur 2 minggu setelah tanam. Dengan pemiliharaan yang baik untuk bibit UJ-5 panen bisa mencapai 45-60 ton/hektar

Ubi kayu dapat ditanam sebagai tanaman tunggal (monokultur), tanaman pagar, maupun bersama dengan tanaman lain (tumpangsari atau tumpang-sisip). Untuk petani yang mengutamakan hasil ubi kayu, namun ingin mendapatkan tambahan penghasilan dari kacang-kacangan, padi gogo, kedelai, atau jagung, maka dapat menggunakan teknik budidaya secara baris ganda (double row). Dengan pengaturan tanam double-row dimungkinkan untuk menanam dua kali tanaman, tanpa mengurangi hasil panenan ubi kayu. Dengan teknik ini, petani lebih cepat mendapat hasil tunai dari panen sementara menunggu tanaman ubi kayu dapat dipanen. Sistem budidaya (pola tanam) tumpangsari ubikayu di lahan kering biasa diterapkan petani dengan beberapa  keuntungan antara lain: 1) dapat memanfaatkan ruang kosong antar barisan tanaman muda ubikayu, 2) petani memperoleh hasil panen dalam waktu singkat (80 - 85 hari) 3) daun tanaman yang rontok dapat menjadikan kompos dan menambah kesuburan tanah; (4) produktivitas lahan dan nilai ekonomi usahatani dalam satu tahun meningkat; dan 5) secara empiris kombinasi tanaman ubikayu dengan system tumpang sari menghasilkan pertumbuhan yang serasi.

Pada dasarnya teknik ini menggabungkan tiga macam budidaya, yakni: 1) budidaya monokultur tanaman pada musim pertama (awal musim hujan), 2) tumpang-sisip dengan penanaman ubi kayu yang diatur secara baris ganda (double-row, 3) budi daya lorong tanaman di antara ubi kayu pada musim kedua (menjelang akhir musim hujan). Walaupun populasi ubi kayu sedikit lebih rendah dibanding populasi monokultur (sekitar 90%), namun pada penanaman tumpangsari, hasil ubi kayu per pohon lebih tinggi sehingga hasil total lebih tinggi daripada monokultur.

Cara penanaman tumpangsari ubi kayu double-row: 1) waktu tanam pada awal MH-1; 2) Kacang tanah ditanam dengan populasi 100% (sebagaimana budi daya monokultur biasa); 3) Stek ubi kayu ditanam setelah tanaman sela berumur 20 hari; 4) Ubi kayu ditanam secara baris ganda dengan jarak tanam (60x70) x 260 cm. Jarak tanam 60 x 70 cm adalah jarak tanam ubi kayu dalam baris ganda, sedangkan 260 cm adalah jarak antar baris ganda ubi kayu (lihat gambar); 5) penanaman tumpangsari kedua akhir MH-2; 6) Setelah dipanen, maka tersedia ruang di antara baris ganda ubi kayu selebar 260 cm. Di antara lorong tersebut dapat ditanam kacang-kacangan sebanyak 5 (lima) baris dengan jarak tanam 40 x 15 cm atau 35 x 20 cm. Dengan jarak tanam ini populasi sekitar 70% dari monokultur.

 

Sumber:

- Cyber Extension Deptan

- Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi     Kayu, dan Ubi Jalar Tahun 2014 Balitkabi

-  BPTP Lampung

 

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com