Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
pustaka
wbs
Katam
Suplemen Sinta
upg

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini809
mod_vvisit_counterKemarin974
mod_vvisit_counterMinggu ini6784
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir6899
mod_vvisit_counterBulan ini13683
mod_vvisit_counterBulan Terakhir33798
mod_vvisit_counterSemua hari1145238

Online (20 menit yang lalu): 12
IP Anda: 18.207.255.49
,
Hari ini: 14 Des, 2019
GP-PTT Padi Solusi Meningkatkan Produksi Padi dengan Sistem Tanam "JAJAR LEGOWO" PDF Cetak E-mail
Oleh Sundari   
Selasa, 18 Juli 2017 06:51

Peningkatan hasil produksi padi sering dilakukan melalui SLPTT ( Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu ) atau PTT ( Pengelolaan Tanaman Terpadu ). Sejak tahun 2015 peningkatan hasil produksi padi difokuskan di wilayah kawasan tanaman pangan yang dikemas dalam Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu ( GP-PTT ). Program GP-PTT memberikan fasilitasi berupa bantuan sarana produksi, tanam jajar legowo dan dan pertemuan kelompok di areal lokasi program GP-PTT dan didukung dengan pembinaan pengawalan dan pemantauan oleh berbagai pihak.

Pengelolaan Tanaman Terpadu ( PTT ) Padi PTT merupakan pendekatan inovasi baru bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi dan effisiensi mengelola usahatani padi secara terpadu. PTT sebagai inovasi baru ikut andil dalam memecahkan permasalahan petani guna meningkatkan hasil produksi. Keberhasilan PTT meningkatkan hasil produksi mengacu pada beberapa pedoman berikut

1. Prinsip Prinsip PTT, Prinsip Prinsip PTT Acuan pedoman yang harus dianut dalam pelaksanaan PTT :1). Terpadu ; PTT merupakan pendekatan sumberdaya tanaman, tanah dan air untuk dikelola dengan baik secara terpadu 2). Sinergis : PTT merupakan teknologi pertanian terbaik yang memperhatikan keterkaitan sumberdaya pendukung dari masing masing komponen teknologi,3). Spesifik lokasi : PTT pada pelaksanaannya disesuaikan dengan teknologi lingkungan fisik sosial budaya dan ekonomi pelaku utama PTT, 4). Partisipatif : Petani ikut berperan serta dalam memilih dan menguji teknologi disesuaikan kondisi keberadaan petani dan kemampuan petani yang dikemas dalam proses pembelajaran dalam bentuk laboratorium lapangan.

2. Tahapan Penerapan PTT Ada beberapa tahapan proses pelaksanaan penerapan teknologi PTT : 1. Pemandu Lapangan bersama petani melakukan Pemahaman Masalah dan Peluang. Yaitu kegiatan identifikasi permasalahan dan kebutuhan petani untuk meningkatkan hasil produksi. Data data penggalian identifikasi difoluskan pada cara pengelolaan tanaman, analisa iklim/curah hujan, kesuburan tanah, luas pemilikan lahan dan lingkungan sosial ekonomi.2. Melakukan perakitan berbagai komponen teknologi PTT sesuai hasil kesepakatan kelompok yang akan diterapkan dilahan usahatani3. Melakukan penyusunan RUK ( Rencana Usaha Kelompok ) sesuai hasil kesepakatan kelompok4. Melakukan penerapan PTT5. Melakukan pengembangan PTT pada petani lainnya

3. Komponen PTT padi Puslitbang Tanaman Pangan Badan Litbang menganjurkan PTT Padi terdiri dari :1. Komponen PTT Padi Dasar meliputi ;a. Padi Sawah Irigasi menggunakan varietas modern ( VUB, PH, PTB ), bibit bermutu dan sehat, pengaturan cara tanam ( Jajar Legowo ), pemupukan berimbang dan effisiensi penggunaan BWD dan PUTS, PHTb. Padi Sawah Tadah Hujan menggunakan varietas modern (VUB, PH, PTB), bibit bermutu dan sehat, pengelolaan hara P dan K berdasar PUTS, pemberian bahan organik, pengendalian gulma terpaduc. Padi Gogo menggunakan varietas modern ( VUB, PH, PTB ), bibit bermutu dan sehat, pemberian bahan organik, pemupukan berdasarkan status kesuburan tanah, konservasi tanah dan aird. Padi Rawa Lebak menggunakan varietas modern ( VUB, PH, PTB ), bibit bermutu dan sehat, pemupukan N granul, P dan K berdasarkan PUTS, PHT sesuai OPT sasaran2. Komponen PTT Padi Pilihan terdiri dari a. Padi Sawah Irigasi menggunakan bahan organik/pupuk kandang, pengolahan tanah yang baik, pengelolaan air optimal ( pengairan berselang ), pupuk cair ( PPC, organic bio hayati/ZPT, pupuk mikro, penanganan panen dan pasca panen.

Dalam rangka mensukseskan program swasembada padi pada tahun 2017, maka budidaya padi dengan inovasi teknologi jajar legowo menjadi sangat perlu. Dengan sistem tanam Jajar Legowo dapat meningkatkan produktivitas padi hingga 10-15%, sehingga penerima Bantuan Sosial (Bansos) Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) wajib menerapkan teknologi Jajar Legowo.

Keuntungan Jajar Legowo dengan pola PTT

Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu komponen Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada padi sawah yang apabila dibandingkan dengan sistem tanam lainnya memiliki keuntungan sebagai berikut:

  1. Sistem tanaman berbaris ini memberi kemudahan petani dalam pengelolaan usahataninya seperti: pemupukan susulan, penyiangan, pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit (penyemprotan). Disamping itu juga lebih mudah dalam mengendalikan hama tikus.
  2. Meningkatkan jumlah tanaman pada kedua bagian pinggir untuk setiap set legowo, sehingga berpeluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman akibat peningkatan populasi.
  3. Sistem tanaman berbaris ini juga berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau parlebek (kombinasi padi, ikan, dan bebek).
  4. Meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai 10-15%.
    Dengan sistem jajar legowo ini terdapat ruang terbuka yang lebih lebar diantara dua atau lebih kelompok barisan tanaman yang akan memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun tanaman padi sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman.

Teknis Penerapan sistem Jajar Legowo

Penerapan sistem tanam jajar legowo disarankan menggunakan jarak tanam (25x25) cm antar rumpun dalam baris; 12,5 cm jarak dalam baris; dan 50 cm sebagai jarak antar barisan/lorong atau ditulis (25x12,5x50) cm. Hindarkan penggunaan jarak tanam yang sangat rapat, misalnya (20x20) cm, karena akan menyebabkan jarak dalam baris sangat sempit.
Sistem Tanam Jajar Legowo yang sudah di perkenalkan dan sudah di adopsi oleh para petani adalah Jajar Legowo 2:1 dan Jajar Legowo 4 : 1 tipe 1 maupun tipe 2. Namun pelaksaan di lapangan masih banyak ditemukan dengan penanaman sistem jajar legowo 5 : 1; jajar legowo 6 : 1; dan bahkan ada yang jajar legowo 8 : 1. Beragamnya praktek legowo di lapangan tersebut menuntut adanya buku acuan penerapan sistem tanam legowo yang benar mulai dari penanaman hingga pengambilan sampel ubinan, sehingga dalam pelaksanaannya benar-benar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk itu, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian menerbitkan buku tentang Sistem Tanam Legowo, 2014. Lebih lanjut dapat dijelaskan sistem tanam jajar legowo 2:1 dan Jajar Legowo 4 : 1 tipe 1 maupun tipe 2.
Legowo 2:1. Sistem tanam jajar legowo 2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per ha sebanyak 213.300 rumpun, serta akan meningkatkan populasi 33,31% dibanding pola tanam tegel (25x25) cm yang hanya 160.000 rumpun/ha. Dengan pola tanam ini, seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan.


Sistem tanam jajar legowo 4:1 tipe 1 merupakan pola tanam jajar legowo dengan keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan. Pola ini cocok diterapkan pada kondisi lahan yang kurang subur. Dengan pola ini, populasi tanaman mencapai 256.000 rumpun/ha dengan peningkatan populasi sebesar 60% disbanding pola tegel (25x25)cm. Legowo 4:1 Tipe 2
Sistem tanam jajar legowo 4:1 tipe 2 merupakan pola tanam dengan hanya memberikan tambahan tanaman sisipan pada kedua barisan tanaman pinggir. Populasi tanaman 192.712 rumpun/ha dengan persentase peningkatan hanya sebesar 20,44% dibanding pola tegel (25x25)cm. Pola ini cocok diterapkan pada lokasi dengan tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Meskipun penyerapan hara oleh tanaman lebih banyak, tetapi karena tanaman lebih kokoh sehingga mampu meminimalkan resiko kerebahan selama pertumbuhan.

 

Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu dengan fasilitasi bantuan yang diberikan pemerintah pada seluruh areal program GP-PTT Padi pada tahun 2015 adalah seluas 350.000 ha. Bantuan Sosial (Bansos) GP-PTT Padi salah satunya adalah ada komponen membantu biaya penerapan teknologi tanam jajar legowo. Untuk itu, GP-PTT Padi di lahan beririgasi wajib meningkatkan optimalisasi popuplasi tanaman persatuan luas melalui penerapkan tanam jajar legowo baik 2:1 atau 4:1. Jumlah bibit per umpun dan umur bibit disesuaikan dengan kebiasaan petani (kondisi setempat). Sedangkan di lahan lebak, pasang surut dan lahan kering, disesuaikan dengan kondisi di masing-masing lokasi.


Dari uraian tersebut di atas maka sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu komponen teknologi budidaya yang ditujukan untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman padi melalui pengaturan populasi. Tanaman diatur sehingga mendapatkan ruang tumbuh dan sinar matahari yang maksimal. Selain itu, efektivitas pemeliharaan tanaman seperti penyiangan, aplikasi pupuk, serta penanggulangan hama dan penyakit lebih efektif. Penerapan sistem tanam jajar legowo yang benar, diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi petani karena adanya peningkatan produksi dan produktivitas. Penerapan GPTT dengan system jajar legowo dalam budidaya padi sawah dan usaha tani lainnya dapat berjalan dengan baik dan benar maka diperlukan kerjasama dan bimbingan yang intensif dari semua pihak yang terkait demi terwujudnya peningkatan produksi beras nasional dalam menunjang ketahanan pangan dan swasembada beras pada khususnya. Dengan demikian diharapkan swasembada berkelanjutan komoditas padi dapat tercapai.

 

Penulis: Sundari/BPTP Kaltim

Sumber pustaka : Dari berbagai Sumber

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com