Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
upg
Katam
pustaka
Suplemen Sinta
wbs

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini170
mod_vvisit_counterKemarin860
mod_vvisit_counterMinggu ini3059
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5249
mod_vvisit_counterBulan ini16439
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1031231

Online (20 menit yang lalu): 11
IP Anda: 18.232.53.231
,
Hari ini: 21 Agus, 2019
Antisipasii Serangan Hama Wereng di Kalimantan Timur PDF Cetak E-mail
Oleh Wawan Banu P.   
Selasa, 04 Juli 2017 12:26

Pemerintah telah menetapkan target produksi padi tahun 2016 sebesar 80 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik hampir 5 juta ton dari tahun 2015. Upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memenuhi kecukupan pangan secara nasional. Namun demikian, cekaman lingkungan biotik dan abiotik dengan frekuensi yang semakin meningkat serta dukungan sumberdaya lahan dan air yang telah menurun kualitas dan kuantitasnya, menyebabkan produktivitas padi masih rendah.

Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan fotoperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga (Wiyono, 2007).

Berbagai fakta menunjukkan bahwa El-Nino dan La-Nina dapat menstimulasi perkembangan hama dan penyakit tanaman, seperti penggerek batang dan wereng coklat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, belalang di Lampung pada MH 1998 dan penyakit tungro di Jawa Tengah, NTB, dan Sulawesi Selatan. Terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Waktu tanam yang tidak serempak dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi pemicu serangan OPT.

Wereng Batang coklat (Nilaparvata lugens) merupakan hama yang sangat merugikan perpadian di Indonesia, dengan serangannya sampai puso pada areal yang luas dalam waktu yang singkat. Hama ini mudah beradaptasi membentuk biotipe baru dan dapat mentransfer virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput yang daya rusaknya lebih hebat dari hama wereng coklat itu sendiri.

Wereng Batang Coklat (WBC) sebelumnya termasuk hama sekunder dan menjadi hama penting akibat penyemprotan pestisida yang tidak tepat pada awal pertumbuhan tanaman, sehingga membunuh musuh alami. Pertanaman yang dipupuk nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat merupakan kondisi yang sangat disukai wereng. Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan WBC adalah dari pembibitan sampai fase matang susu. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya adalah tanaman menguning dan cepat sekali mengering. Umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi – melingkar disebut hopperburn.

Ambang ekonomi hama ini adalah 15 ekor per rumpun. Siklus hidupnya 21-33 hari. Mekanisme kerusakan adalah menghisap cairan tanaman pada sistem vaskular (pembuluh tanaman).

Produktivitas  padi masih dapat ditingkatkan melalui implementasi program Pengendalian Hama Terpadu (PHT).Penerapan PHT di lapangan adalah juga mendukung praktek pertanian yang baik (GAP). Untuk penerapannya membutuhkan strategi pengelolaan risiko, yang mencakup penggunaan tanaman tahan hama dan penyakit, rotasi tanaman dengan pakan ternak, ledakan penyakit pada tanaman peka, dan penggunaan bahan kimia seminimal mungkin untuk mengendalikan gulma, hama, dan penyakit dengan mengikuti konsep PHT.

Alternatif kebijakan implementasi PHT berikut ini perlu diaplikasikan untuk mencapai praktek pertanian yang baik menuju pertanian berkelanjutan. Kebijakan teknis alternatif tersebut yakni: 1) Pemilihan Varietas Tahan dan Hemat Energi; 2) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Secara Hayati; 3) Pergiliran Varietas Antar Musim; 4) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Padi dengan Sistem Integrasi Palawija pada Pertanaman Padi; 5) Perbaikan Teknik Budidaya; 6) Pengendalian Hama Berdasarkan Manipulasi Musuh Alami; dan 7) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Berdasarkan Ambang Ekonomi; serta 8) Minimalisasi Residu Pestisida

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan hama wereng batang coklat seperti tanah, pengairan, kelembaban, suhu, pupuk dan ketahanan varietas. Faktor-faktor tersebut merupakan komponen epidemi hama penyakit yang dapat dikelola untuk tujuan  pengendalian hama WBC. Upaya untuk mengendalikan wereng  melalui pengelolaan komponen epidemi secara terpadu mempunyai peluang keberhasilan tinggi.

 

1) Pemilihan Varietas Tahan dan Hemat Energi

Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam pengendalian wereng batang coklat adalah menggunakan varietas tahan. Penggunaan varietas tahan harus disesuaikan dengan sebaran biotipe yang ada di suatu daerah. Beberapa varietas padi yang tahan terhadap beberapa biotipe wereng batang coklat diantaranya adalah (Tabel 1):

 

Tabel 1. Beberapa varietas yang tahan WBC yang sangat dianjutkan

No

Varietas

Tahan

Agak Tahan

1

Ciherang

Biotipe 2

Biotipe 3

2

Inpari 1

Biotipe 2

Biotipe 3

3

Inpari 2

-

Biotipe 1,2 dan 3

4

Inpari 6

Biotipe 2 dan 3

-

5

Inpari 10

-

Biotipe 1 dan 2

6

Inpari 13

Biotipe 1,2, dan 3

-

7

Inpari 15

-

Biotipe 1

8

Inpari 17

-

Biotipe 1 dan 2

9

Inpari 18

Biotipe 1 dan 2

Biotipe 3

10

Inpari 19

Biotipe 1 dan 2

-

11

Inpari 20

-

Biotipe 1

12

Inpari 33

Biotipe 1,2, dan 3

-

13

Inpari 34

-

Biotipe 1

14

Inpara 1

-

Biotipe  1 dan 2

15

Inpara 2

-

Biotipe 2

16

Inpara 3

-

Biotipe 3

17

Inpara 4

-

Biotipe 3

18

Inpago 7

-

Biotipe 1 dan 2

19

Inpago 9

-

Biotipe 1

 

2) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Secara Hayati;

Musuh alami wereng batang coklat yang berupa predator yaitu laba-laba (Lycos sp., Tetragnatha spp., Oxyopes sp., Callitrichia sp.), Paederus fucipes, Cyrtorhinus lividipennis, Coccinella spp., Ophionea sp., dan Microvelia atroli-neata. Predator Paederus lebih menyukai inang dengan urutan wereng batang coklat, wereng punggung putih, wereng zigzag, dan wereng hijau. Paederus memangsa berbagai stadia wereng, kecuali stadia telur.

Patogen serangga adalah jenis jasad renik (jamur, bakteri, dan virus) yang menginfeksi serangga inang sehingga menyebabkan kematian inangnya. Jamur yang menginfeksi serangga disebut jamur entomopatogenik, yaitu menginfeksi inang melalui kulit atau masuk ke dalam alat pencernaan melalui makanan. Jamur patogen serangga, Beauveria bassiana dan  Metarhizium anisopliae dapat menekan populasi wereng batang coklat masing-masing 40% dan 23%.

 

3) Pergiliran Varietas Antar Musim

Upaya lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan varietas tahan adalah dengan tidak menanam padi secara monogenik (1 atau 2 varietas) secara luas dan terus menerus. Bila padi tersebut ditanam terus menerus sepanjang tahun maka harus dilakukan pergiliran varietas. Beberapa varietas yang berbeda tingkat ketahanannya ditanam pada satu areal, dapat mengurangi tekanan seleksi terhadap invasi WBC, sehingga dapat memperlambat terjadinya ketahanan WBC dan patahnya ketahanan suatu varietas.

Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling murah dan mudah diterapkan. Penggunaan varietas tahan umumnya kompatibel dengan cara pengendalian yang lain. Penggunaan varietas yang sama dan tidak diketahui tingkat ketahanannya terhadap suatu OPT secara terus menerus, dapat mendorong terjadinya perubahan sifat biologi OPT setempat sehingga dengan cepat dapat meningkatkan kerentanan tanaman itu sendiri. Sutu varietas yang ditanam tanpa henti 4 - 5 musim dapat patah ketahanannya. Penanaman yang multi varietas dapat menghambat proses perkembangan biotipe baru wereng coklat. Biotipe wereng yang berkembang sebagai hasil dari tekanan genetik di lapangan dan merupakan suatu proses yang mendekati seleksi alam.

Pergiliran varietas antar musim  perlu dilakukan hal ini berhubungan dengan sifat dari wereng coklat yang mudah beradaptasi dengan varietas yang baru dilepas. Varietas tahan yang terus menerus ditanam secara luas, makin lama akan makin mudah terserang wereng coklat dengan berusaha membentuk biotipe yang baru. Biotipe yang baru  umumnya lebih sulit dikendalikan.

 

4) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Padi dengan Sistem Integrasi Palawija pada Pertanaman Padi

Pengelolaan agroekologi harus berada di garis depan untuk mengoptimalkan daur ulang nutrisi dan pengembalian bahan organik, alir energi tertutup, konservasi air dan tanah, serta keseimbangan populasi hama dan musuh alami.

Hama dan penyakit tanaman padi juga dapat dikendalikan berdasarkan agroekologi, antara lain dengan sistem integrasi palawija pada pertanaman padi (SIPALAPA).Sistem ini berupa pertanaman polikultur, yaitu menanam palawija di pematang pada saat ada tanaman padi. SIPALAPA dapat menekan perkembangan populasi hama wereng coklat dan wereng punggung putih. Hal ini disebabkan adanya predator Lycosa pseudoannulata, laba-laba lain, Paederus fuscifes, Coccinella, Ophionea nigrofasciata, dan Cyrtorhinus lividipennis yang mengendalikan wereng coklat dan wereng punggung putih. Demikian juga parasitasi telur wereng oleh parasitoid Oligosita dan Anagrus pada pertanaman SIPALAPA lebih tinggi daripada pertanaman padi monokultur.

Penerapan teknologi SIPALAPA dapat meningkatkan keanekaragaman sumber daya hayati fauna dan flora (biodiversitas). Penanaman kedelai atau jagung pada pematang sawah terbukti dapat memperkaya musuh alami, mempertinggi dinamika dan dialektika musuh alami secara dua arah antara tanaman palawija dan padi.

 

5) Perbaikan Teknik Budidaya;

Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:

a). Membersihkan lingkungan dari sisa-sisa tanaman musim sebelumnya yang menjadi sumber  penyakit/hama; b).Tanam dilakukan tepat waktu, dikombinasikan dengan peramalan datangnya hama, atau monitoring hama dengan lampu perangkap; c).Tanam secara serempak, sangat berguna untuk mengurangi kelimpahan hama.  Dalam satu hamparan tidak ada tanaman yang mendahului karena biasanya menjadi sumber penularan hama; d). Tanam dalam barisan yang teratur, untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk dalam pertanaman.  Sehingga dapat meniadakan iklim mikro yang cocok untuk perkembangan serangga hama;

 

Introduksi Varietas Unggul Baru yang lebih tahan terhadap WBC dengan menggunakan Varietas Inpari. Beberapa komponen yang harus dilakukan dalam perbaikan teknik budidaya meliputi: tanam bibit muda (umur 15 – 20 hari setelah sebar), melakukan pengolahan tanah sempurna, memodifikasi persemaian dengan luas 4% dari luas yang akan ditanam dengan lebar bedengan 1 – 1,2 m panjang disesuaikan dengan keadaan lahan dan pemberian abu sekam sebanyak 2 kg/m, jumlah bibit 2 batang per lubang tanam, tanam sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1, pemupukan spesifik lokasi menggunakan alat bantu berupa PUTS (perangkat uji tanah sawah) dan penggunaan BWD (bagan warna daun) untuk N, pengendalian gulma, hama dan penyakit secara terpadu, serta panen dengan menggunakan alat perontok. Pengaturan pola tanam juga dapat menyelamatkan dan melestarikan musuh alami dari ancaman insektisida yang diaplikasikan

Jarak tanam yang tidak terlalu rapat atau sistem legowo sangat dianjurkan untuk membuat kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi patogen penyebab penyakit. Kemudian didukung dengan cara pengairan berselang (intermiten). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi tanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi serta menghidarkan terjadinya gesekan antar daun. Pertanaman selalu rapat akan menciptakan kondisi lingkungan terutama suhu, kelembaban, dan aerasi yang lebih menguntungkan bagi perkembangan penyakit. Di samping itu pada pertanaman yang rapat akan mepermudah terjadinya infeksi dan penularan dari satu tanaman ke tanaman lain.

 

6) Pengendalian Hama Berdasarkan Manipulasi Musuh Alami;

Pemeliharaan keseimbangan biologi (biological balance) antara hama penyakit dengan musuh alami; Menanam berbagai tanaman penghasil nektar di sekitar sawah, sebagai makanan bagi serangga netral maupun predator. Untuk mengembangkan musuh alami dapat dilakukan dengan membiakkannya secara massal kemudian dilepas di daerah endemis serangan hama tersebut. Untuk patogen serangga, pengembangannya dilakukan dengan mengaplikasikan patogen siap pakai saat populasi inang sedang tinggi

Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami menghemat penggunaan insektisida 33-75%, meskipun pada musim hujan dengan kelimpahan hama wereng cukup tinggi. Dengan cara ini, hasil padi di tingkat petani meningkat 36% dengan peningkatan keuntungan 53,7%. Ambang ekonomi bukan harga yang tetap, tetapi berfluktuasi bergantung pada harga gabah dan pestisida. Bila harga gabah meningkat maka ambang ekonomi akan turun dan sebaliknya, tetapi bila harga insektisida naik maka amba

 

7) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Berdasarkan Ambang Ekonomi;

Adopsi praktek pengendalian menggunakan bahan organik bila memungkinkan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap sistem produksi dan implikasinya terhadap lingkungan guna meminimalisi pemakaian bahan kimia pertanian, khususnya dalam meningkatkan adopsi teknologi PHT.

Untuk mengendalikan wereng secara efektif diperlukan adanya pengamatan atau peramalan perkembangan populasi wereng coklat setelah wereng imigran datang di pertanaman dan berkembang menurunkan generasinya. Di Indonesia  ambang ekonomi wereng coklat terbaru berdasarkan kajian analisis ekonomi harus didasarkan pada 3 fase pertumbuhan tanaman padi. Aplikasi insektisida yang direkomendasikan dilakukan jika wereng coklat 3-5 ekor/rumpun pada padi umur <20 hari setelah tanam (HST),  atau 5-9 ekor/rumpun pada padi umur 20-40 HST, atau jumlah wereng 10-20 ekor/rumpun pada padi umur >40HST.

Teknologi budidaya seperti tersebut di atas bersifat praktis, murah, dan mudah diterapkan. Pertanaman yang dirancang dengan teknik budidaya berdasar pada konsep ekologi mempunyai peluang keberhasilan yang besar dalam mengendalikan perkembangan hama.  Populasi hama yang berkembang sedikit berdampak pada penggunakan insektisida berkurang.

8) Minimalisasi Residu Pestisida

Insektisida yang dianjurkan untuk pengendalian wereng pada tanaman padi menurut Inpres No. 3. 1986, adalah senyawa pengatur pertumbuhan  buprofezin, BPMC, MIPC, dan karbofuran. Dari penelitian terakhir sebaiknya menggunakan insektisida fipronil yang berdaya tangkal rangkap untuk mengendalikan wereng coklat dan penggerek, sedangkan imidakloprid sangat baik untuk mengendalikan wereng hijau dan wereng coklat. Insektisida-insektisida ini belum dilaporkan menimbulkan efek resurgensi pada hama wereng. Pada saat ada serangan wereng coklat tidak diperbolehkan menggunakan insektisida yang dilarang.

Penyimpanan dan penggunaan bahan kimia yang sesuai dan teregistrasi untuk individu tanaman, waktu dan interval penggunaan sebelum panen.Penggunaan insektisida secara bijaksana adalah meminimalkan penggunaannya atau menggunakan insektisida secara selektif pada saat diperlukan. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa insektisida buprofezin dan BPMC efektif mengendalikan wereng batang coklat tanpa mengancam kehidupan predatornya, yaitu laba-laba, Lycosa, Cyrtorhinus, dan Coccinella.

 

PHT merupakan pengelolaan hama secara ekologis, teknologis, dan multidisiplin dengan memanfaatkan berbagai taktik pengendalian yang kompatibel dalam satu kesatuan koordinasi sistem pengelolaan pertanian berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Implementasi PHT memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk petani, peneliti, pemerhati lingkungan, penentu kebijakan, dan bahkan politisi. Implementasi PHT dapat mendukung keberlanjutan pengembangan pedesaan dengan mengamankan suplai air dan menyediakan makanan sehat melalui praktek pertanian yang baik. PHT mengakomodasikan teknologi ramah lingkungan dengan pendekatan hayati, tanaman inang tahan, hemat energi, budi daya, dan aplikasi pestisida berdasarkan ambang ekonomi. Bahan kimia yang digunakan harus sesuai dengan persyaratan pengelolaan yang diatur dengan undangundang.

PHT harus mengembangkan diversitas agroekosistem yang menguntungkan dari pengaruh integrasi antartanaman sehingga terjadi interaksi dan sinergisme, serta optimalisasi fungsi dan proses ekosistem, seperti pengaturan biotik yang merusak tanaman, daur ulang nutrisi, produksi dan akumulasi biomassa. Hasil akhir dari pola agroekologi adalah meningkatnya ekonomi dan keberlanjutan agroekologi dari suatu agroekosistem. Pendekatan pertanian berkelanjutan untuk pengelolaan hama, yang meliputi kombinasi pengendalian hayati, kultur teknis, dan pemakaian bahan kimia secara bijaksana, merupakan alat dalam merintis pertanian ekonomis, pelestarian lingkungan, dan menekan risiko kesehatan. PHT, GAP, dan pertanian berkelanjutan mengarah kepada keselarasan lingkungan, secara ekonomi memungkinkan dipraktekkan, serta memperhatikan keadilan masyarakat (socially equitable).

 

SUMBER :

1. Wiyono,S . 2007. Perubahan Iklim dan Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman.  Dalam Makalah disampaikan pada Seminar Sehari tentang Keanekaragaman Hayati Ditangah Perubahan Iklim: Tantangan Masa  Depan Indonesia. Jakarta 28 Juni 2007.

2. Dari berbagai sumber

 

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com