Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Suplemen Sinta
wbs
upg
Katam
pustaka

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini261
mod_vvisit_counterKemarin877
mod_vvisit_counterMinggu ini4202
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5091
mod_vvisit_counterBulan ini18202
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1032994

Online (20 menit yang lalu): 11
IP Anda: 35.173.48.224
,
Hari ini: 23 Agus, 2019
Standar Mutu Gabah dan Beras Giling PDF Cetak E-mail
Oleh Tim Pascapanen   
Jumat, 23 Oktober 2015 16:12

Seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat, permintaan beras bermutu dan cita rasa nasi yang enak semakin meningkat. Banyak faktor yang menentukan mutu beras seperti mutu beras giling, rendemen, mutu gabah dan kehilangan bobot. Mutu beras ditentukan oleh mutu gabah sewaktu digiling, derajat sosoh, kondisi penggilingan dan penanganannya serta sifat varietas (Soemardi dan Thahir, 1991). Mutu giling merupakan salah satu faktor penting yang menentukan mutu beras, antara lain : rendemen beras kepala, rendemen beras giling, persentase beras pecah, dan derajat sosoh beras. Sebagian besar beras yang beredar di beberapa daerah di Indonesia memiliki derajat sosoh 80% atau lebih dan persentase beras kepala lebih besar dari 75% dan mengandung butir patah kurang dari 30%. Berbagai faktor yang meliputi keadaan lingkungan, panen hingga penanganan lepas panen mempengaruhi mutu giling di samping faktor genetik (Haryadi, 2006).

Rendemen beras kepala merupakan persyaratan utama dalam penetapan mutu gabah, karena akan menentukan jumlah berat beras yang dihasilkan dan pada akhirnya menentukan nilai ekonomis beras tersebut. Rendemen beras kepala mempunyai keragaman yang besar yang tergantung pada berbagai faktor yaitu varietas, jenis biji, butir kapur, cara budidaya, faktor lingkungan, perlakuan lepas panen yang dimulai sejak pemanenan, perontokan, pengeringan, penyimpanan, hingga penggilingan. Demikian halnya rendemen total beras giling dipengaruhi juga dengan faktor diatas serta  ditentukan oleh perbandingan sekam, kulit ari, dan bagian endosperm. Semua karakter mutu tersebut akan menentukan penerimaan konsumen terhadap beras.

Berdasarkan BSNI (1987),  persyaratan  mutu  kualitatif  gabah  terdiri  dari empat  karakter yaitu : 1. bebas hama dan penyakit; 2. bebas dari  busuk, asam dan bau lainnya; 3. bebas bahan kimia dan sisa pupuk, insektisida dan fungisida; dan 4. gabah tidak boleh panas. Gabah dikatakan bebas dari hama dan penyakit apabila secara visual tidak ditemui adanya hama serangga (termasuk di dalamnya bangkai serangga atau  hama  dikatagorikan  sebagai  benda asing), ulat dan lain sebagainya.  Persyaratan  mutu gabah berpedoman  pada  standar  mutu  gabah berdasarkan SNI (Tabel 1).

Tabel 1. Standar Mutu Gabah

Kriteria Mutu

Mutu I (%)

Mutu II (%)

Muti III (%)

Kadar air (maks)

14

14

14

Gabah hampa

1

2

3

Butir rusak + butir kuning (maks)

2

5

7

Butir mengapur + gabah muda (maks)

1

5

10

Gabah merah (maks)

1

2

4

Benda asing (maks)

-

2

4

Gabah varietas lain (maks)

2

5

10

Sumber : BSNI (1987)

Kadar air maksimal yang  dimiliki oleh gabah kering adalah antara 13-14%, apabila kadar  air  gabah lebih  tinggi  maka gabah  sulit  dikupas,  sedangkan  pada kadar air yang lebih rendah butiran gabah akan mudah patah. Butir hampa adalah butir gabah yang tidak berkembang sempurna  atau akibat serangan  hama, penyakit atau sebab lain sehingga tidak berisi butir beras walaupun kedua  tangkup  sekamnya  tertutup  maupun  terbuka. Butir gabah setengah hampa tergolong ke dalam butir hampa. Gabah rusak artinya gabah yang terfermentasi, gabah berjamur atau gabah yang terserang serangga. Gabah dapat  mengalami  fermentasi apabila mengalami kontak dengan air dalam waktu cukup lama dan biasanya ditandai dengan adanya warna kehitaman pada permukaan gabah (Patiwiri 2006).

Kontrol  mutu  pada  beras  giling  harus  berpedoman  pada  standar  mutu kualitatif dan kuantitatif. Beras giling adalah beras utuh atau patah yang diperoleh dari proses penggilingan  gabah  hasil  tanaman  padi (Orizae  sativa L) yang seluruh lapisan sekamnya terkelupas atau sebagian lembaga dan bekatul telah dipisahkan. Standar mutu kualitatif  beras  meliputi  bebas  hama dan penyakit,  bebas  bau  busuk, asam dan  bau  lainnya,  bebas  dari  bekatul  dan  bebas  dari  tanda-tanda  adanya  bahan kimia yang membahayakan. Berdasarkan  standar  mutu  yang  dibuat  oleh  SNI  (Tabel 2),  beras  giling dibedakan  menjadi  beberapa  golongan  mutu  sesuai  dengan  kriterianya.  Mutu  I merupakan katagori beras super yang hanya terdiri dari beras kepala atau bahkan di atasnya (beras utuh saja). Mutu II dan III merupakan katagori beras berkualitas mutu menengah. Sedangkan Mutu IV dan V merupakan beras berkualitas medium hingga bermutu rendah yang dipasarkan di pasar tradisional termasuk di dalamnya beras pengadaan dalam negeri BULOG (Fatchurrozi 2011).

Tabel 2. Standar Mutu Beras Giling

Kriteria Mutu

Mutu I (%)

Mutu II (%)

Mutu III (%)

Mutu IV (%)

Mutu V (%)

Derajat sosoh (min)

100

100

95

95

85

Kadar air (maks)

14

14

14

14

15

Beras kepala (min)

95

89

78

73

60

Butir utuh (min)

60

50

40

35

35

Butir patah (maks)

5

10

20

25

35

Butir menir (maks)

0

1

2

2

5

Butir merah (maks)

0

1

1

3

3

Butir kuning (maks)

0

1

1

3

5

Butir mengapur (maks)

0

1

1

3

5

Butir asing (maks)

0

1

1

3

5

Butir asing (maks)

0

0,02

0,02

0,05

0,2

Butir gabah (maks)

0

1

1

2

3

Campuran varietas lain (maks)

5

5

5

10

10

Sumber : BSNI (1999)

 

Sumber : dari berbagai sumber

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com