Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
upg
Katam
Suplemen Sinta
pustaka

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini660
mod_vvisit_counterKemarin759
mod_vvisit_counterMinggu ini4410
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir7397
mod_vvisit_counterBulan ini17732
mod_vvisit_counterBulan Terakhir28118
mod_vvisit_counterSemua hari1085287

Online (20 menit yang lalu): 15
IP Anda: 18.204.227.250
,
Hari ini: 17 Okt, 2019
Mengatasi Tanah yang Terlalu Masam PDF Cetak E-mail
Oleh Rina D   
Senin, 28 September 2015 09:52

Keasaman tanah yang baik untuk tanaman berkisar antara pH 5,5 - 7,5 tergantung pada jenis tanaman yang dibudidayakan. Pada kondisi tanah asam kuat atau basa kuat, pertumbuhan tanaman akan terganggu. Beberapa unsur hara tidak dapat diserap oleh tanaman karena adanya reaksi kimia di dalam tanah yang mengikat atau membelenggu ion-ion dari unsur hara tersebut. Hal ini berarti bahwa pemupukan pada tanah asam atau tanah basa tidaklah efektif, karena meskipun tanah diberi tambahan unsur hara namun tanah tidak mampu memanfaatkannya.  Karena itu, sebelum melakukan pemupukan, pH tanah harus dikembalikan pada kondisi netral pada kisaran 5,5 - 7,5.

Di wilayah tropis seperti Indonesia, sebagian besar tanah pertaniannya berada dalam kondisi asam dikarenakan tingginya curah hujan dan kandungan tanah liatnya.  Air yang berlebihan akan mempercepat proses penghancuran mineral tanah, selain itu terjadinya erosi akan membawa unsur-unsur yang bersifat basa sehingga yang tertinggal hanyalah unsur-unsur yang bersifat asam. Penyebab lain yang juga akan meningkatkan keasaman tanah adalah penggunaan tanah secara terus-menerus, pengolahan tanah secara intensif, dan penggunaan pupuk kimia secara rutin.

Jika pH tanah terlalu rendah, maka harus ditingkatkan agar mendekati kondisi netral.  Cara mengatasinya dengan melakukan pengapuran menggunakan kapur pertanian, seperti kapur tohor (CaO), kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).  Dolomit inilah yang paling umum dipakai untuk keperluan pertanian.  Dosis dolomit yang diberikan tergantung pada ukuran awal pH tanah.  Semakin asam atau semakin rendah pH tanah, maka semakin banyak pula dolomit yang harus ditambahkan.  Secara garis besar, dosis dolomit untuk pengapuran adalah 8-10 ton untuk pH 4,  dolomit sebanyak 4-6 ton untuk tanah pH 5, dan  1-2 ton untuk tanah pH 6.

Penggunaan dolomit untuk pengapuran bermanfaat untuk :

  1. Menetralkan tanah dan menekan unsur-unsur yang meracuni tanaman
  2. Memperkuat kerja dinding sel tanaman sehingga tanaman tegak dan tahan serangan jamur
  3. Mencegah rontoknya calon buah
  4. Mengandung senyawa MgO yang menyusun klorofil sehingga memperlancar fotosintesis.

Pengapuran dapat dilakukan sebelum maupun setelah penanaman.  Mula-mula tanah dicangkul dan dibersihkan dari rumput atau gulma.  Setelah itu kapur disebarkan secara merata ke seluruh permukaan lahan.  Agar kapur tercampur sempurna, permukaan tanah dicampur kembali secara merata. Sedangkan pengapuran susulan dilakukan dengan cara menaburkan kapur secara tipis dan merata lalu disiram sedikit demi sedikit hingga kapur larut dalam tanah.

Pengapuran tidak boleh dilakukan bersamaan dengan pemupukan karena kapur dapat bereaksi dengan pupuk N membentuk amoniak yang mudah menguap, sehingga kedua perlakuan menjadi tidak efektif.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com