Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
upg
Katam
pustaka
Suplemen Sinta

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini283
mod_vvisit_counterKemarin808
mod_vvisit_counterMinggu ini5032
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5091
mod_vvisit_counterBulan ini19032
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1033824

Online (20 menit yang lalu): 15
IP Anda: 34.204.179.0
,
Hari ini: 24 Agus, 2019
INTEGRASI SAPI-SAWIT DI KALIMANTAN TIMUR PDF Cetak E-mail
Oleh ludy   
Senin, 30 November 2009 07:14
A.  Kesesuaian Inovasi/Karakteristik Lokasi

Seperti diketahui bahwa, tingkat konsumsi daging sapi sebesar 35 ribu ton dan dalam 3 tahun terakhir mengalami peningkatan sekitar 10% (Disnak Kaltim 2006). Untuk memenuhi permintaan daging sapi pemerintah mendatangkan sapi potong dari luar negeri seperti dari negara Australia dan memberikan bantuan kepada pekebun melalui bantuan langsung masyarakat (BLM) bergulir untuk mendukung program swasembada daging sapi tahun 2010 (Disnak Kaltim, 2006).
Kabupaten Paser merupakan salah satu wilayah pengembangan perkebunan kelapa sawit pertama di provinsi Kalimantan Timur yang dimulai pada tahun 1987. Potensi pengembangan ternak sapi potong di Kabupaten Paser sangat menjanjikan, karena begitu luasnya perkebunan yang mencapai 32.300 hektar. Produksi kelapa sawit dapat mencapai 211 juta kg/tahun dengan rataan produksi/hektar mencapai 7.300 kg. jika dihitung dengan jumlah limbah pelepah dan daun mencapai 631.807.465 kg pelepah dan daun segar. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan ternak sapi sebagai pengganti pakan hijauan dan dapat diberikan sebanyak 30% dari kebutuhan bahan kering. Selanjutnya ada tujuh perusahaan perkebunan besar swasta dan tiga perusahaan terbatas perkebunan nusantara XIII, khususnya PTP nusantara XIII masing-masing mempunyai kapasitas rataan produksi kernel perbulan mencapai 270 ton (Long Kali), 509 ton (Long Pinang), dan 382 ton (Semuntai).
Hasil samping pabrik kelapa sawit, yakni pelepah dan daun dari kebun kelapa sawit, serta lumpur/solid sawit dan bungkil inti sawit dari pabrik pengolahan kelapa sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak sapi potong.

B.  Keunggulan/Nilai Tambah Inovasi

Hasil kajian menunjukkan bahwa, pemberian pakan (formula pakan F1) dengan komposisi pelepah sawit 60%, lumpur/solid sawit dan bungkil inti sawit masing-masing sebesar 18%, dan dedak padi 4% dan formula pakan (F2) dengan komposisi pelepah sawit 30%, lumpur sawit 40%, bungkil inti sawit 26% dan dedak padi 4% merupakan jenis pakan yang cukup baik untuk sapi potong, Namun dari aspek biaya, pakan F1 merupakan jenis pakan yang lebih ekonomis dibandingkan F2. Pertambahan berat badan harian rataan (average daily gain/ADG) sapi yang diberikan pakan F1 selama 6 minggu adalah sebesar 0,58 kg/ekor/hari, jumlah konsumsi pakan sebesar berkisar 8,6 kg/ekor/hari, dan tingkat konversi pakan adalah sebesar 13,92.

C.  Uraian Inovasi

Pada kegiatan ini, sejumlah 12 ekor sapi Brahman cross (BC) betina dewasa milik para pekebun kooperator, berat hidup berkisar antara 400-500 kg dipergunakan pada kegiatan ini. Masing-masing ternak ditempatkan dalam kandang kelompok bersekat milik pekebun kooperator. Kandang kelompok berbentuk terbuka pada bagian sisinya namun telah berlantai papan kayu, beratap seng dan dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Pada bagian belakang kandang terdapat tempat penampungan feses dan urine, sekaligus merupakan tempat untuk melakukan proses dekomposisi bahan organik yang berhasil ditampung. Sapi yang dipergunakan ditempatkan pada salah satu sisi kandang yang dipisahkan dengan sekat yang terbuat dari batang kayu.
Limbah kelapa sawit dan bahan tambahan sebagai sumber bahan baku pakan sapi potong antara lain: (1) pelepah sawit, (2) solid sawit, (3) rumput raja, (4) rumput alam, (5) dedak padi, (6) urea, (7) molases/tetes tebu. Sedangkan perawatan kesehatan sapi digunakan obat cacing.

D.  Cara Penggunaan Inovasi

Lumpur sawit/solid decanter didatangkan dari pabrik kelapa sawit yang merupakan hasil samping pabrik kelapa sawit dan tidak semua pabrik dapat menghasilkan lumpur sawit ini. Lumpur sawit ini diperoleh dengan cuma-Cuma, karena merupakan hasil samping yang hanya dibuang begitu saja di perkebunan kelapa sawit. Setelah lumpur sawit tiba di lokasi peternakan, selanjutnya ditempatkan dibawah naungan yang beratap dan ditutup menggunakan terpal agar tidak mudah berjamur.
Bungkil inti sawit juga didatangkan dari pabrik kelapa sawit, tetapi hasil samping ini dibeli dengan harga murah (saat ini harganya Rp.300,-/kg)
Untuk sumber seratnya dapat memanfaatkan limbah perkebunan kelapa sawit yaitu pelepah kelapa sawit yang dikupas terlebih dahulu kulitnya selanjutnya dicacah menggunakan mesin pencacah atau chopper. Siapkan bahan tambahan sumber mineral yaitu seperti garam.
Tahapan berikutnya adalah menyusun bahan-bahan baku pakan tersebut menjadi ransum yang disesuaikan dengan tujuan pemberian pakan untuk perbibitan atau penggemukan sapi potong. Dalam menyusun formula pakan harus diperhitungkan nutrisi masing-masing bahan dan jumlah pemberian pakan sejumlah 3,5% bahan kering dari berat hidup. Formulasi pakan dapat dibuat sebagai berikut:

 

a. Formula I (F1) dengan komposisi bahan baku pakan antara lain: pelepah sawit (20%), rumput raja (20%), solid sawit (40%), bungkil inti sawit (20%) dan tambahan urea, molases, dan garam secukupnya,
b. Formula II (F2) dengan komposisi bahan baku pakan antara lain: rumput raja (40%), solid sawit (60%), dan tambahan urea, molases, dan garam secukupnya,

Pakan diberikan dalam bentuk segar. Untuk mendapatkan jumlah pemberian pakan sejumlah 3,5% bahan kering dari berat hidup, maka selama ±1 bulan dilakukan penyesuaian pakan atau adaptasi pakan perlakuan setiap saat setelah penimbangan ternak.
Pemberian pakan dalam bentuk formula II menghasilkan pertambahan berat badan harian ternak yang lebih tinggi dibandingkan pakan pada formula I dan formula III/pola pekebun (Tabel 2). Pengamatan tidak menunjukkan adanya efek yang negatif dari pemberian solid dan pelepah, justru bulu ternak kelihatan lebih mengkilat dan bentuk badan kelihatan lebih padat. Selanjutnya warna dan bau kotoran ternak setelah pemberian pakan dari limbah sawit  menjadi lebih hitam mengkilat, halus dan baunya khas bau minyak sawit.

 

Tabel 1.  Kenaikan berat badan sapi Brahman Cross betina dewasa yang diberikan pakan dari limbah sawit selama 3 bulan masa pemeliharaan di Kab Paser.
No
Uraian
Penampilan Ternak
Berat badan awal (kg/ekor)
Berat badan
Akhir (kg/ekor)
PBB
(kg/ekor)
PBBH
(kg/ekor/hr)
I.


II.


III.




Formula I :
· Pelepah = 10 kg
· Solid segar = 28,33 kg
· Rumput raja = 10 kg
Formula II :
· Solid segar = 28 kg
· Rumput raja = 20 kg
Formula III/pola pekebun :
· Rumput alam = 40 kg
· Dedak padi = 1 kg/minggu

390,67


379,75


376,00

460,00



466,75


415,00


69,33


87,00

39,00


0,77



0,97


0,43


E.  Informasi Lain yang Perlu Ditonjolkan


Untuk memudahkan dan mengefisiensikan teknologi pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak, perlu dibentuk kelompok atau unit pengelola pakan ternak skala kelompok. Tujuan dibentuknya unit pengelola pakan ternak ini untuk mendapatkan harga pakan yang lebih murah dibandingkan bila setiap petani ternak mengadakan bahan baku pakan ternak sendiri-sendiri.
Hasil analisis finansial (Tabel 2) menunjukkan bahwa pemberian pakan formula II (solid dan rumput raja) lebih menguntungkan dibandingkan bentuk formula I dan formula III/pola pekebun. Pemanfaatan limbah sawit sebagai pakan alternatif lebih menguntungkan, karena perhitungan biaya transportasi pengambilan solid yang dihitung sebagai harga solid = Rp 90,-/kg dan biaya tenaga kerja pengambilan dan pencacahan batang pelepah sawit (asumsi : 10 kg cacahan sawit membutuhkan waktu kerja 0,25 jam; upah tenaga kerja Rp 35.000/HOK; 1 HOK = 8 jam kerja)  yang dihitung sebagai harga pelepah = Rp.110,-/kg, dapat tertutupi dari peningkatan berat badan ternak dibandingkan dengan sistem pemeliharaan pola pekebun yang menggunakan rumput alam dan dedak (asumsi: 40 kg mencari dan mengarit rumput alam  membutuhkan waktu kerja 1,5 jam; upah tenaga kerja Rp 35.000/HOK; 1 HOK = 8 jam kerja) yang dihitung sebagai harga rumput alam = Rp 165,-/kg tidak dapat tertutupi dari peningkatan berat badan ternak, sehingga sistem pemeliharaan ternak pola pekebun jika tenaga kerja dihitung sebagai biaya produksi maka usahatani ternak sapi pola pekebun tidak layak untuk diusahakan (R/C = 0,74).
LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com