Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
pustaka
Suplemen Sinta
wbs
upg
Katam

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini596
mod_vvisit_counterKemarin877
mod_vvisit_counterMinggu ini4537
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5091
mod_vvisit_counterBulan ini18537
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1033329

Online (20 menit yang lalu): 11
IP Anda: 18.232.171.18
,
Hari ini: 23 Agus, 2019
Bawang Merah “lembang jumbo” Sangat Adaptif di Kutai Kartanegara PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Tarbiyatul M., Muryani P., dan Farid R.A   
Senin, 10 November 2014 11:08

Tanaman bawang merah termasuk dalam kelompok rempah yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional. Bawang merah dapat tumbuh baik didataran rendah maupun dataran tinggi (0-900 mdpl) dengan curah hujan 300 - 2500 mm/th, suhu antara 25 - 320C. Bawang Merah menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam. Tanaman bawang merah membutuhkan tanah gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, serta mudah menyediakan air dengan aerasi udara baik dan tidak becek. Jenis tanah yang baik untuk budidaya bawang merah adalah regosol, grumosol, latosol, dan aluvial, dengan pH 5.5 - 7.

Dengan memperhatikan syarat tumbuh diatas, ternyata tanaman bawang merah mulai dilirik petani Kalimantan Timur. Tanaman hortikultura tersebut mulai dibudidayakan di Kabupaten Paser pada tahun 2008 dengan produktivitas mencapai 8 ton/ha pada luasan 1 Ha dan terus terjadi pengembangan luas penanaman hingga 10 ha di tahun 2012 (http://www.vivaborneo.com). Selain di Kabupaten Paser, komoditas tersebutternyata dapat beradaptasi baik di Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada tahun 2013, tercatat sekitar 4 ha bawang merah varietas “Lembang Jumbo” yang telah beradaptasi baik di Sulawesi dikembangkan di Desa Karang Tunggal, dengan produktivitas 8-9 ton/ha. Keragaan “Lembang Jumbo” asal bibit dari Sulawesi menunjukkan penampakan warna umbi merah keunguan lebih mengkilat dibandingkan saat ditanam di Sulawesi dan waktu panen maju 5 hari dari umur panen.

Keberhasilan penanaman bawang merah di dua kabupaten tersebut dapat mendorong pengembangan komoditas tersebut di daerah lainnya di Provinsi Kalimantan Timur mengingat potensi sumberdaya lahan kering di Kaltim masih luas. Berdasarkan peta zona agroekologi (ZAE) skala 1:250.000 (BBSDLP, 2013), tanaman bawang merah dapat dikembangkan pada Zona IV ax (agroekosistem dataran rendah) yaitu sekitar 9,32% (1,8 juta ha) dan IV cx (agroekosistem dataran tinggi) sekitar 0,03% (6.134 ha).

Berikut beberapa Varietas Unggul Bawang Merah yang telah dilepas oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: Bima Brebes, Medan, Keling, Maja Cipanas, Super Philip, Bauji, Kramat 1, Kramat 2, Batu Ijo, Tiro, Tuk-tuk, dan Katumi.  Varietas Super Philip sesuai untuk musim kemarau dengan penampilan umbi sangat disukai konsumen sedangkan varietas Bauji sesuai untuk musim hujan.  Demikian juga dengan varietas Batu Ijo mempunyai keunggulan dalam hal ukuran umbi  besar yang sesuai ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi. Maja Cipanas mempunyai keunggulan tidak berbunga (0%).

Dan saat ini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kaltim telah melakukan uji adaptasi terhadap 5 varietas unggul bawang merah yaitu Rubaru, Bauji, Biru Lancur, Super Philip, dan Batu Ijo di Kecamatan Muara Komam Kabupaten Paser.Semoga varietas ini pada akhirnya mampu membuat peningkatan taraf kehidupan petani bawang yang ada di Kalimantan Timur.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com