Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
upg
Katam
pustaka
Suplemen Sinta

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini117
mod_vvisit_counterKemarin620
mod_vvisit_counterMinggu ini737
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5249
mod_vvisit_counterBulan ini14117
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1028909

Online (20 menit yang lalu): 7
IP Anda: 35.175.120.59
,
Hari ini: 18 Agus, 2019
Hari Taninya Petani “ Moment Refleksi Petani dan Pertanian Masa Kini” PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Ekajyujaya   
Kamis, 25 September 2014 06:34

Dari jumlah ponduduk Indonesia saat ini yang mencapai “seperempat miliyar”  (252.124.458 jiwa, data BPS 2014) ada berapa persenkah yang menyadari bahwa hari ini adalah Hari Tani Nasional?? Hari yang ditetapkan berdasarkan pada penetapan Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, (UUPA). Hal ini dikarena salah satu isi UUPA mengatur tentang ketetapan hukum bagi pelaksanaan redistribusi tanah pertanian (reforma agraria). Ditetapkan kelahiran UUPA sebagai hari tani dengan pemikiran bahwa tanpa peletakan dasar keadilan bagi petani untuk menguasai sumber agraria, seperti tanah, air, dan kekayaan alam, mustahil ada kedaulatan petani. Jadi, siapapun yang menyadari bahwa hari ini adalah Hari Tani, kiranya pandas di apresiasi, karena memang tidak semua orang menyadari, bahwa 24 September adalah Hari Tani Nasional.

 

...Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupmu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.... (Koes Plus)

 

Ya.., inilah Indonesia, negara yang terkenal dengan nama Negara Agraris (dan juga Maratim ini), pernah begitu bangga akan sektor pertanian nya, era manis nya sektor pertanian merebak di masa 80’an saat pertama kali Indonesia menyatakan pertama kali berswasembada beras. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena, beras merupakan tanaman pangan utama yang menjadi bahan makanan utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Dengan swasembada beras ini, pemerintah menyatakan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya, tanpa ketergantungan dengan pihak asing.

Akan tetapi seiring perkembangan zaman, dan semakin bertambahnya populasi penduduk Indonesia, maka pola pikir “Negara Agraris” itu sepertinya mulai memudar. Ditandai dengan semakin memudarnya kecintaan generasi muda untuk membangun sektor ini, lahan pertanian potensial bahkan mulai beralih fungsinya menjadi lahan tambang, pemukiman, bahkan industri dan jasa. Bahkan untuk provinsi Kalimantan Timur, data terakhir menyebutkan bahwa 4687 Ha lahan sawah, telah berganti rupa menjadi lahan tambang batubara (Dr.Herdiansyah, Dosen Faferta UNMUL Kaltim). Pernahkah ada yang memikirkan kemana para petani pemilik 4687 Ha lahan sawah saat ini berada? Seperti apa penghidupan mereka? Bergerak dalam sektor apa penghidupan nya? Tahan pangankah mereka saat ini?.

Maka, dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional, Universitas Mulawarman Kalimantan Timur, mencoba mengangkat suatu kajian dalam sebuah seminar dengan tajuk “Meningkatkan Ketahanan Pangan Melalui Teknologi dan Pemberdayaan Petani yang Kreatif, Inovatif, dan Berkelanjutan). Seminar yang dengan penyaji Dr. Ir. Muhamad Hidayanto, M.P (Kepala BPTP Kalimantan Timur) , Dr.Ir.Herdiansyah, M.Si (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman) dan Andi Burhan (Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Kalimantan Timur), membahas beberapa isu penting dalam pencapaian usaha ketahanan pangan bagi Indonesia, tujuan akhirnya tidak bukan, adalah untuk memberikan suatu pandangan dan masukan agar penghidupan petani bisa di tingkatkan, dengan tetap mempertimbangkan bahwa peningkatan taraf hidup petani, diharapkan bisa memberikan dampak yang lebih baik penghidupan masyarakat Indonesia secara umum.

Dalam artian, saat pencapaian ketahanan pangan bukan sekedar mimpi, maka tentunya akan mengurangi dampat dari kerawanan pangan yang terjadi. Seperti hal nya yang kita tahu, kerawanan pangan adalah hal yang mendasari terjadinya kerawanan sosial, dan tentu saja hal ini pada akhirnya akan mengganggu kestabilan kondisi Negara Indonesia secara Umum. Dr. Ir. Muhamad Hidayanto, M.P, selaku kepala BPTP memberikan beberapa ide untuk mencapai ketahanan pangan dengan penggunaan teknologi yang tepat guna, yang diikuti dengan membangun kemandirian dan kearifan lokal lembaga petani yang ada, melakukan diversifikasi pangan, serta adanya perumussan kebijakan (political will) yang mendukung petani dan sektor pertanian.

Pada akhirnya, semoga Hari Tani Nasional, bukan lah suatu hari monumental, tapi lebih kepada evaluasi akan suatu fonomena yang ada di sektor pertanian. Langkah pertama tentu saja dimulai dari diri sendiri, memulai dengan belajar untuk menghargai makanan. Apapun itu. Karena bagaimana pun adanya makanan adalah hasil jerih payah dan kerja keras petani yang kehidupannya belum tentu sesejahtera kita. Kita juga bisa belajar dengan mencintai tanaman, dengan merawatnya, sehingga bias menghasilkan buah atau biji yang bermanfaat.

Dan tentu saja bagi generasi muda, untuk membantu petani tidak harus jadi petani, tapi kita bisa menjadi seseorang yang mampu memberikan ide-ide cemerlang dalam upaya mensejahterahkan petani, bahkan mungkin harus mencapai posisi perumus, pembuat dan penentu kebijakan, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih bisa memanusiakan petani. Satuhal yang perlu disadari kita memang tidak bisa menolak terjadinya alih fungsilahan pertanian, menjadi sektor non tertanian, tapi kita bisa membuat inivasi untuk mengembangkan sektor pertanian secara maksimal pada lahan yang minimal.

 

walau di gunung tinggi

atau di dusun Sepi

rela kami mengabdi

jadi dian petani

yang hidup nya ironi.... (hymne pertanian)

Ka. BPTP Kaltim (Dr. M. Hidayanto, MP) Menyampaikan materi pada seminar HTN 2014

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com