Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Suplemen Sinta
wbs
upg
Katam
pustaka

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini593
mod_vvisit_counterKemarin660
mod_vvisit_counterMinggu ini5064
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir6072
mod_vvisit_counterBulan ini13973
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1028765

Online (20 menit yang lalu): 16
IP Anda: 3.227.10.125
,
Hari ini: 17 Agus, 2019
Pendekatan PTT Jagung Sebagai Salah Satu Upaya Budidaya Jagung Yang Berkelanjutan PDF Cetak E-mail
Oleh Hidayanto dan Yossita F   
Rabu, 17 September 2014 07:52

Jagung merupakan salah satu komoditas pangan yang mempunyai peranan strategis dalam perekonomian nasional. Seiring perkembangan jaman kebutuhan terhadap komoditas ini terus meningkat, baik untuk pangan maupun pakan dan industri, apalagi dengan berkembangnya usaha peternakan di Indonesia akhir-akhir ini. Di Kalimantan Timur, kebutuhan jagung mencapai lebih dari 18 ribu ton, sementara saat ini baru bisa diproduksi siap konsumsi sekitar 5 ribu ton atau sekitar 27% dari kebutuhan, sehingga masih kekurangan sekitar 13 ribu ton lebih. Bahkan, saat ini, jagung telah dikembangkan menjadi komponen penting pakan ternak. Penggunaan lainnya adalah sebagai sumber minyak pangan dan bahan dasar tepung maizena. Bahkan berbagai produk turunan hasil jagung merupakan bahan baku berbagai produk industri, seperti bioenergi, industri kimia, kosmetika, dan farmasi.

Indonesia pernah mengimpor jagung sebanyak 1,80 juta ton dan diperkirakan mencapai 2,20 juta ton dengan nilai impor sebesar Rp 8,61 triliun, untuk itu jika produksi nasional tidak segera dipacu, maka ketergantungan akan impor tentunya akan semakin kuat. Dengan luasan areal panen yang semakin berkurang sebagai akibat dari banyak terjadinya alih fingsi lahan, maka saat ini luas arean penen jagung nasional dewasa hanya sekitar lebih kurang 3 juta hektar dengan produktivitas 3,6 t/Ha, sementara di tingkat penelitian telah mencapai 5,0-10,0 ton/Ha, bergantung pada kondisi lahan, lingkungan setempat, dan teknologi yang diterapkan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa produksi jagung masih dapat ditingkatkan melalui inovasi teknologi.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Timur, sebagai salah satu unit kerja Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, turut berupaya dalam menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas jagung, bahkan di antara varietas unggul sebagian telah dikembangkan oleh petani. Salah satu  pendekatan pengembangan ini melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang mampu meningkatkan produktivitas jagung dan efisiensi input produksi. Terlihat dari beberapa Penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan varietas unggul yang dibudidayakan dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) mampu meningkatkan produksi jagung dan efisiensi input produk.

PTT merupakan suatu upaya pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan, yang dirancang berdasarkan pengalaman implementasi berbagai sistem intensifikasi yang pernah dikembangkan di Indonesia.

Tujuan nya  adalah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani serta melestarikan lingkungan produksi melalui pengelolaan lahan, air, tanaman, OPT, dan iklim secara terpadu. Prinsip PTT mencakup empat unsur, yaitu integrasi, interaksi, dinamis, dan partisipatif.

Dengan langkah pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan teknologi secara partisipatif bersama petani, bukanlah suatu hal yang sulit untuk dicapai dalam pendekatan PTT ini.

Seiring dengan prinsip utama penerapan PTT adalah partisipatif (petani berperan aktif memilih dan menguji teknologi yang sesuai melalui proses pembelajaran di Laboratorium Lapang), spesifik lokasi (memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial budaya dan ekonomi petani), terpadu (pengelolaan sumber daya tanaman, tanah dan air secara terpadu), sinergis (pemanfaatan teknologi terbaik dan memperhatikan keterkaitan antarkomponen teknologi), dan dinamis (penerapan teknologi sesuai perkembangan IPTEK).

 

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com