Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
upg
Katam
pustaka
Suplemen Sinta

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini281
mod_vvisit_counterKemarin808
mod_vvisit_counterMinggu ini5030
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5091
mod_vvisit_counterBulan ini19030
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1033822

Online (20 menit yang lalu): 14
IP Anda: 34.204.179.0
,
Hari ini: 24 Agus, 2019
Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Kalimantan Timur PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Sumarmiyati   
Kamis, 04 September 2014 07:36

Perubahan iklim global yang terjadi di dunia dapat berpengaruh terhadap pergeseran musim yang mengakibatkan perubahan awal tanam. Iklim yang tidak stabil berpengaruh terhadap curah hujan yang terjadi di Indonesia. Sebagian besar pulau Kalimantan akan mengalami musim penghujan yang lebih banyak, hal ini jika tidak diantisipasi secara tepat dapat berpengaruh terhadap kondisi pertanaman.

Musim hujan dengan frekuensi dan curah hujan tinggi dapat mengakibatkan banjir dibeberapa daerah di Kalimantan, hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap hasil panen, bahkan ada sebagian daerah yang mengalami gagal panen akibat banjir. Dampak perubahan iklim bisa secara langsung maupun tidak langsung melalui serangan OPT, fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat yang mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT merupakan beberapa pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia.

Peningkatan kejadian iklim ekstrim yang ditandai dengan fenomena banjir dan kekeringan, perubahan pola curah hujan yang berdampak pada pergeseran musim dan pola tanam, fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat yang mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT merupakan beberapa pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia. Pengaruh kejadian iklim ekstrim tersebut seringkali menstimulasi ledakan (outbreak) beberapa hama dan penyakit utama tanaman.

Perubahan iklim bumi dapat ditanggulangi melalui penyusunan kebijakan adaptasi dan mitigasi.  Adaptasi adalah penyesuaian sistem sosial dan alam dalam mengatasi dampak negatif perubahan iklim, sedangkan mitigasi adalah upaya mengurangi sumber maupun peningkatan rosat (penyerap) gas rumah kaca sehingga proses pembangunan tidak terhambat dan tujuan pembangunan yang berkelanjutan dapat dicapai.

Adaptasi dilakukan melalui pengunaan varietas tanaman yang dianjurkan, seperti  tahan terhadap serangan hama dan penyakit dan kebijakan rotasi penanaman sesuai prakiraan iklim yang berkaitan dengan perubahan iklim tersebut.  Pola tanam tumpang sari (intercropping) mempunyai potensi terjadinya gangguan hama yang kompleks.  Untuk itu pemilihan jenis tanaman sangat penting, yaitu tanaman yang dipilih bukan merupakan inang alternatif dari hama utama tanaman perkebunan.

Usaha mitigasi dapat dilakukan dengan implementasi pengendalian hama terpadu, melalui : konservasi musuh alami, peningkatan keanekaragaman (diversity) tanaman, mengintensifkan pest surveillance yang berkelanjutan, dan penggunaan pestisida secara selektif.  Selain itu, pemanfaatan informasi iklim untuk sistem peringatan dini (Early Warning) dengan menerapkan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) atau Sekolah lapang Iklim (SL-Iklim), SL-PTT Padi Sawah, bagi petani dan kelompok tani.

Peta Kalender Tanam (Katam) adalah peta yang menggambarkan potensi pola waktu tanam untuk tanaman pangan, terutama padi, berdasarkan potensi dan dinamika sumberdaya iklim dan air. Peta ini secara khusus disusun untuk keperluan program ketahanan pangan. Peta Kalender Tanam diharapkan juga menjadi salah satu informasi yang operasional dalam menghadapi anomaly dan perubahan iklim.

Untuk mengantisipasi perubahan iklim yang tidak menetu dan tidak mudah diprediksi, maka peta katam tidak hanya disusun berdasarkan kondisi periode tanam yang dilakukan oleh petani saat ini, tetapi juga disusun berdasarkan tiga kejadian iklim yaitu tahun basah (TB), tahun normal (TN), dan tahun kering (TK). Dengan demikian kalender dan pola tanam yang akan diterapkan dapat disesuaikan dengan masing-masing kondisi iklim tersebut.

a. Upaya-upaya Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian yang sudah dilakukan oleh BPTP Kaltim

  1. Mengembangkan teknik budidaya yang sesuai untuk mengatasi (banjir  dan kekeringan) serta mengatasi serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) seperti Sistem tanam padi SRI, dan dengan sistem tanam Jajar Legowo yang di implementasikan melalui kegiatan pendampingan SL –PTT Padi Sawah.
  2. Penggunaan dan pengembangan varietas-varietas padi (VUB) dan padi lokal ( Padi Adan (Krayan), Padi Serai dan Geligai (Padi Gunung) di Kukar, yang tahan kering/banjir/salinitas dan serangan OPT;Hasil uji adaptasi VUB Padi pada pendampingan SL-PTT di 11 Kab/Kota dengan mengintroduksikan varietas padi Inpari 6,7,8,9,10 dan 13 dapat meningkatkan produksi rata-rata 2,5 – 3,8 ton/ha GKP atau sebesar 35-68 %.
  3. Implementasi & pengembangan kalender tanam sehingga petani dapat memutuskan pola dan waktu tanamnya sesuai kondisi iklim/spesifik lokasi. Kalender Tanam yang disusun oleh Badan Litang Pertanian, Pengelolaan terhadap berbagai perubahan iklim diperlukan untuk mengelola perubahan iklim, dan secara simultan untuk antisipasi yang komprehensif terhadap dampak perubahan iklim bumi dalam jangka panjang.
  4. Pola tanam tumpang sari (intercropping) mempunyai potensi terjadinya gangguan hama yang kompleks. Pemilihan jenis tanaman sangat penting, yaitu tanaman yang dipilih bukan merupakan inang alternatif dari hama utama tanaman.
  5. Pola Integrasi Sawit dan karet dengan ternak ( sapi ) dan tanaman pangan. Pemanfaatan lahan sela sawit dan karet untuk di tanami tanaman pangan.
  6. Mendorong budidaya tanaman ramah lingkungan melaui kegiatan :
  • Model Kawasan Rumah Pangan Lestari Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk budidaya tanaman sayuran, pangan alternatif, toga dll, dengan menerapkan :

1.          Pengendalian OPT : mekanik dan fisik, pestisida nabati, agens hayati
2.          Mulsa organik (pemanfaatan jerami untuk pupuk dan mulsa)
3.          Pupuk organik (kompos jerami, bio urin, pupuk kandang dll)
4.          Pestisida secara bijaksana berdasarkan konsep  PHT

  • Optimalisasi  Lahan Bekas Penambangan Batu Bara Pemanfaatan lahan bekas penambangan batubara untuk budidaya tanaman pangan, hortikultura dan peternakan.
  1. Optimalisasi pemanfaatan rawa lebak untuk budidaya Padi lahan rawa dengan menggunakan  varietas padi lahan rawa ( VUB Inpara )
  2. Adaptasi iklim melalui kearifan lokal seperti pemanfaatan tanda-tanda atau kejadian alam yang secara spesifik terjadi di berbagai daerah di Kalimantan Timur yang dapat digunakan sebagai pedoman saat  musim tanam.

 

b. Upaya-upaya Mitigasi Perubahan Iklim di Kalimantan Timur

1.  Inventarisasi daerah rawan banjir/kering, ketersediaan benih, alsintan dan saprodi lain.

2.  Penyebaran informasi prakiraan iklim  Kalender Tanam Terpadu melalui Pemda dan instansi terkait untuk disebarluaskan per kecamatan untuk di implementasikan di tingkat petani;

3.  Pengawalan & monitoring intensif kegiatan Implementasi Kalender Tanam yang sudah berjalan;

4.  Meningkatkan koordinasi dengan dinas dan instansi terkait, terkait upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Kalimantan Timur

5.  Menyediakan informasi & kajian pengembangan teknologi pemanfaatan informasi iklim (Stasiun Iklim, AWS dan AWLR) dan pengelolaan risiko iklim.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com