Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
Katam
upg
pustaka
Suplemen Sinta

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini559
mod_vvisit_counterKemarin944
mod_vvisit_counterMinggu ini4575
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir6899
mod_vvisit_counterBulan ini11474
mod_vvisit_counterBulan Terakhir33798
mod_vvisit_counterSemua hari1143029

Online (20 menit yang lalu): 13
IP Anda: 3.234.214.113
,
Hari ini: 12 Des, 2019
Sistem Usahatani terpadu Ternak Sapi Potong PDF Cetak E-mail
Oleh ludy K   
Kamis, 05 November 2009 13:02

Pemerintah daerah propinsi Kalimantan Timur telah menetapkan kecamatan Sepaku, kabupaten Penajam Paser Utara sebagai salah satu sentra pengembangan agribisnis komoditas unggulan sapi potong (SPAKU Sapi Potong), disamping itu, kawasan ini juga merupakan sentra pengembangan tanaman lada rakyat yang produksinya paling tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di kabupaten Penajam Paser Utara, yaitu 112,50 ton lada kering/tahun. Disamping itu propinsi Kalimantan Timur juga mencanangkan program swasembada daging sapi tahun 2010 dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan pangan asal daging sapi yang sampai saat ini masih mengalami kekurangan.

Data dari Dinas Peternakan Propinsi Kalimantan Timur (2001) melaporkan bahwa kebutuhan daging di Kalimantan Timur hingga saat ini masih cukup tinggi, dengan tingkat konsumsi daging pada tahun 2001 sebesar 24.945 ton dan 31,68% nya berasal dari daging sapi potong (setara dengan 48.616 ekor). Sedangkan kemampuan daerah ini untuk menyediakan ternak sapi potong sebagai penghasil daging hanya sebesar 14%-nya atau 6.922 ekor, sehingga masih diperlukan 41.694 ekor sapi potong yang harus didatangkan dari luar propinsi Kalimantan Timur .{mosimage}

Sapi potong adalah sumber penghasil daging terbesar kedua setelah ayam potong dan yang menjadi permasalahan di tingkat lapangan adalah lambatnya perkembangan populasi ternak sapi potong baik untuk pedaging maupun sebagai penghasil bakalan lokal, sehingga diperlukan suatu paket teknologi pemberian pakan tambahan yang dapat memacu perkembangan populasi sapi potong di Kalimantan Timur. Dengan demikian upaya peningkatan produktivitas sapi potong diharapkan dapat mempercepat terpenuhinya kebutuhan daging di Kalimantan Timur.

Sedangkan tanaman lada merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai nilai atau harga rataan paling tinggi, yaitu p.15.350,00/kg, sehingga usahatani lada dapat meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah ini selain ternak sapi potong dan tanaman lainnya (Disbun Kaltim, 2002).

Berdasarkan potensi dan kendala yang dimiliki wilayah ini, serta untuk meningkatkan produktivitas lahan, tanaman pangan, lada, dan ternak sapi potong, maka perlu dilakukan suatu upaya untuk menerapkan teknologi usahatani konservasi terpadu antara tanaman pangan, lada dan ternak sapi potong, sehingga diharapkan produktivitasnya menjadi lebih baik.

Komponen-komponen teknologi introduksi yang akan diterapkan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering berlereng, tanaman pangan, lada dan ternak sapi potong antara lain, (1) teknologi konservasi lahan dengan sistem contour dengan menggunakan ondol-ondol untuk menentukan tata letak tanaman, (2) memanfaatkan lahan diantara garis contour dengan tanaman pangan (ubi jalar, jagung, dan tanaman hortikultura) dan di garis contour-nya ditanami hijauan makanan ternak dengan tujuan untuk mencegah laju erosi tanah dan sebagai sumber hijauan pakan ternak, sedangkan untuk tanaman lada yang biasanya petani menggunakan kayu ulin sebagai tiang panjat diubah dengan menggunakan leguminosa pohon gliricidae/gamal bertujuan untuk menyediakan hijauan pakan ternak sapi potong yang memiliki kandungan protein pakan tinggi, dan dengan jarak tanam 3 meter, (3) pemeliharaan ternak sapi potong secara berkelompok dengan memanfaatkan hijauan pakan ternak (rumput dan gliricidae) sebagai sumber hijauan pakan. dan kotoran sapi yang sudah terkumpul diolah secara fermentasi terbuka menggunakan mikroba terpilih yang dimanfaatkan sebagai sumber hara bagi tanaman.

Manajemen perbaikan pakan dilakukan dengan memberikan hijauan pakan bermutu (rumput dan gliricidae), dan konsentrat berupa dedak padi sesuai untuk kebutuhan hidup pokok dan berproduksi.

Memperbaiki kualitas pakan sapi di tingkat peternak rakyat merupakan suatu hal yang tidak mudah dilakukan karena berkaitan dengan kemampuan dan kebiasaan peternak, disamping menyangkut potensi atau daya dukung wilayah sekitar. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya upaya untuk memulai memberi sentuhan teknologi dalam usaha meningkatkan produktivitas sapi potong. Salah satu teknologi terapan yang terkait dengan usaha peningkatan produktivitas ternak adalah pemberian bioplus (Aryogi et al., 1999).
Probiotik adalah feed supplement yang dikembangkan dari mikroba rumen terpilih yang berasal dari rumen sapi, sehingga apabila mikroba tersebut diberikan kepada sapi lain akan bersinergisasi dengan mikroba-mikroba yang ada didalam rumen sapi lain. Hasil sinergistik antar mikroba tersebut akan meningkatkan efisiensi penggunaan gizi pakan.



 
Joomla Templates by JoomlaVision.com