Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
upg
Katam
pustaka
Suplemen Sinta

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini119
mod_vvisit_counterKemarin620
mod_vvisit_counterMinggu ini739
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5249
mod_vvisit_counterBulan ini14119
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1028911

Online (20 menit yang lalu): 7
IP Anda: 35.175.120.59
,
Hari ini: 18 Agus, 2019
Banyak SDG Terancam Punah PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh admin   
Selasa, 22 Juli 2014 11:40

Indonesia merupakan salah satu negara kaya Sumber Daya Genetik (SDG), tapi sayangnya SDG tersebut banyak yang punah sehingga diperlukan upaya untuk melestarikannya. Kepala  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Haryono, mengatakan dalam kondisi iklim yang terus berubah, eksistensi sumber daya genetik saat ini sangat rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah. Untuk itu , peningkatan nilai tambah SDG memegang peranan penting dalam menjaga kelestariannya.

Upaya konservasi diakui, juga sulit dilakukan  terhadap SDG yang belum diketahui manfaatnya dan kurang memiliki nilai ekonomi Contohnya,  Padi lokal varietas Seulawah merupakan padi lokal yang ditemukan  di daerah dataran tinggi di Sumatera Utara.

Di  tempat asalnya, Padi varietas  ini sangat  rentan  terhadap OPT dan produktivitasnya  rendah sehingga tidak disukai Petani. Tapi  ternyata varietas  ini memiliki sifat  tahan  terhadap suhu dingin, sehingga dikembangkan  sebagai donor sifat  tahan dingin  pada padi di Jepang.

"Karena  itu, secara bertahap nilai ekonomi SDG perlu diketahui sebagai dasar Pengelolaan, terutama bagi pertumbuhan  ekonomi lokal” katanya dalam pembukaan Konggres Nasional V dan Seminar Nasional Sumber Daya Genetik di Bali beberapa waktu yang lalu.

Pacla acara  tersebut juga diberikan  penghargaan kepada sepuluh petani Pelestari SDG, yakni : Ahmadul Marzuki  (Kalimantan Selatan),  Made Supala (Bali), Sapirim  (NTB), Hamsadi (Kalimantan  Timur), Wawan  Kustiawan (Jawa Barat),  Budiansyah (Kalimantan  Barat), Dian  Rossana Anggraini  (Bangka Belitung), Samanhudi  (Jawa  Timur),  Suyatno (Lampung) dan Lasmadi  dari Kalimantan Tengah.

Pada kesempatan  itu Haryono berharap,  Komisi Nasional dan Komisi Daerah dapat bersama- sama  mempromosikan  dan mensinergikan pihak-pihak  terkait untuk mengkaji  dan memetakan SDG. Dengan demikian  dapat diketahui  SDG Yang memiliki nilai ekonomis untuk  kemudian bersama-sama  mempromosikan, sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“karenanya, SDG lokal perlu didorong untuk kembangkan secara kreatif melalui pengembangan model-model kawasan dalam upaya mengurangi beban investasi yang tinggi” ujarnya.

Menurut Hanyono, SDG yang merupakan sumber sifat menjadi salah satu  iaktor esential dalam perakitan teknologi. Indonesia denganpotensi SDG iang melimpah, baik jumlah maupun jenisnya serta keanekaragaman  hayati yang didukung  dengan  sebaran kondisi geografis, memungkinkan  untuk menghasilkan  jenis dan  varietas baru.

Kepala Badan Litbang Pertanian (Dr. Haryono) menyerahkan sertifikat untuk petanin pelestari komoditas langka

 

Sumber : Sinar Tani edisi 9-15 Juli 2014

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com