Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
Katam
upg
pustaka
Suplemen Sinta

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini562
mod_vvisit_counterKemarin944
mod_vvisit_counterMinggu ini4578
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir6899
mod_vvisit_counterBulan ini11477
mod_vvisit_counterBulan Terakhir33798
mod_vvisit_counterSemua hari1143032

Online (20 menit yang lalu): 16
IP Anda: 3.234.214.113
,
Hari ini: 12 Des, 2019
PEMANFAATAN PESTISIDA ALAMI UNTUK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SECARA TRADISIONAL PDF Cetak E-mail
Oleh Noor Roufiq Ahmadi   
Selasa, 25 September 2012 08:06

Banyaknya permasalahan yang ditimbulkan dari produk pertanian, salah satunya adalah adanya sisa bahan kimia yang terkandung dalam tanaman dan buah-buhan, sehingga dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsinya. WHO melaporkan bahwa telah terjadi keracunan pestisida di seluruh dunia antara 44.000 sampai 2.000.000 orang per tahun dan dari jumlah angka tersebut angka terbanyak terjadi di negara berkembang. Penggunaan pestisida sintetis secara terus-menerus. menyebabkan permasalahan, diantaranya : menimbulkan resistensi hama; membengkaknya biaya produksi; dan menimbulkan dampak negatif bagi manusia, ternak dan lingkungan. Di Indonesia, pengguanaan pestisida alami mulai dikenalkan sejak tahun 1960-an dengan adanya Pra Revolusi Hijau. Kesadaran masyarakat akan dampak negatif penggunaan pestisida sintetik terus berkembang. Oleh karena itu, salah satu alternatif menanggulangi penggunaan pestisida sintetik yaitu dengan penelitian dan peningkatan kualitas pestisida alami sehingga memiliki daya bunuh terhadap hama dan penyakit sebanding dengan pestisida sintetis.

Pestisida alami merupakan salah satu sarana pengendalian hama alternatif yang layak dikembangkan, karena senyawa insektisida dari tumbuhan mudah terurai di lingkungan, tidak meninggalkan residu di udara, air dan tanah serta mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan racun-racun anorganik. Susunan molekul pestisida alami sebagian besar terdiri atas karbohidarat, nitrogen, oksigen dan hidrogen yang mudah terurai menjadi senyawa yang aman bagi lingkungan dan juga menurunkan peluang hewan yang bukan sasaran terkena residu. Sedangkan kelemahan penggunaan pestisida alami yaitu daya tahan singkat (mudah terdegradasi); ketersediaan bahan baku yang musiman; kandungan bahan aktif kurang stabil dan relatif rendah. Indonesia terkenal kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk jenis tumbuhan yang mengandung bahan aktif pestisida. Namun, pemanfaatan tumbuhan sebagai pestisida hanya 10% dari 300.000 jenis tumbuhan yang ada.

Beberapa tanaman yang berpotensi sebagai pestisida alami diantaranya ajeran (Bidens pilosa L.), akar tuba (Derris elliptica), bandotan (Ageratum conyzoides Linn.), baru cina (Artemisia vulgaris Linn.), bawang (Allium Cepa), bawang putih (Allium sativum L.), bayam duri (Amaranthus spinosus Linn.), bengkuang (Pachyrhizus erosus), bijanggut (Mentha spp.), brotowali (Tinospora rumphii), bunga pagoda (Clerodendrum japonicum), bunga piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium), bunga pukul empat (Mirabilis jalapa Linn.), cabai merah (Capsicum annuum), cemara hantu (Melaleuca brachteata F. Muell.), cengkeh (Syzygium aromaticum), duku (Lansium domesticum), gadung (Dioscorea hispida Dennst.), Gamal (Gliricidia sepium), genteng peujet (Quassia amara L.), iler (Coleus scutellarioides), jahe (Zingiber officinali), jarak (Ricinus communis Linn.), jeringau (Acorus calamus L.), kelor (Moringa oleifera), kenikir (Tagetes erecta), ketumbar (Coliandrum sativum), kipait (Tithonia diversifolia), kirinyuh), kunyit (Curcuma domestica), legundi lakiā€“laki (Vitex negundo Linn.), lengkuas (Alpinia galanga), lenglengan (Leucas aspera), lidah buaya (Aloe barbadensis Milleer), mahoni (Swietenia mahagoni ), mengkudu (Morinda citrifolia), mimba (Azadirachta indica A. Juss), mindi (Melia azedarach), pacar cina (Aglaia odorata Lour.), paku ekor kuda (Equisetum arvense), patah tulang (Euphorbia tirucalli), pepaya (Carica papaya), petikan kebo (Euphorbia hirta L.), pongam (Pongamia pinnata), putri malu (Mimosa pudica), sambiloto (Andrographis paniculata), selasih (Ocimum bacilicum L.), senopodi (Chenopodium ambroioides ), serai wangi (Cymbopogon nardus), singawalang (Petiveria alliacea), sirih (Piper betle Linn.), sirsak (Annona muricata Linn.), srikaya (Annona squamosa), suren (Toona sureni), tembakau (Nicotiana tabacum), tembelekan (Lantana camara), tephrosia (Tephrosia vogelii), kamandrah (Croton tiglium L.).

Flora asli Indonesia ini perlu dikembangkan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam balutan industri sehingga mudah didapatkan, harga terjangkau dan efektif dalam menanggulangi hama dan penyakit. Dikemudian hari dimungkinkan tanaman-tanaman ini sebagai salah satu acuan penggunaan dalam gerakan pertanian organik yang memiliki nilai tambah dari sisi ekonomi.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com