Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
pustaka
Suplemen Sinta
wbs
upg
Katam

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini596
mod_vvisit_counterKemarin877
mod_vvisit_counterMinggu ini4537
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5091
mod_vvisit_counterBulan ini18537
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1033329

Online (20 menit yang lalu): 12
IP Anda: 18.232.171.18
,
Hari ini: 23 Agus, 2019
Pengembangan Tanaman Kamandrah (Croton tiglium L.) Sebagai Larvasida Nabati Pencegah Penyakit Demam Berdarah Dengue PDF Cetak E-mail
Oleh Noor Roufiq Ahmadi   
Senin, 10 September 2012 08:03

Indonesia adalah salah satu negara tropis yang paling besar di dunia. Iklim tropis menyebabkan adanya penyakit tropis yang disebabkan oleh nyamuk, seperti malaria, filariasis, chikungunya, deman berdarah (DB) dan deman berdarah dengue (DBD). Penyebab utama munculnya epidemi berbagai penyakit tropis tersebut adalah perkembangbiakan dan penyebaran nyamuk sebagai vektor penyakit yang tidak terkendali. Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh vektor nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Penyakit DBD di Indonesia pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968, dengan angka kematian 42,3%. Pada tahun 2010, tercatat kasus penyakit DBD terjadi di seluruh Indonesia berjumlah 148.560 kasus (IR 62.5 per 100.000 penduduk), dengan angka kematian sebesar 0,87%. Untuk mengatasi masalah penyakit DBD telah banyak usaha dilakukan antara lain dengan cara terapi spesifik dan pengembangan vaksin, tetapi sampai saat ini hasilnya masih belum memuaskan. Alternatif yang paling memberi harapan untuk pemberantasan penyakit DBD adalah memutus mata rantai penyebaran nyamuk pada stadium larva dengan menggunakan larvasida. Saat ini telah banyak insektisida yang digunakan oleh masyarakat, sayangnya larvasida tersebut membawa dampak negatif pada lingkungan karena kandungan senyawa-senyawa kimia yang berbahaya, baik terhadap manusia maupun sekelilingnya. Oleh karena itu perlu dikembangkan larvasida baru yang tidak menimbulkan bahaya dan lebih ramah lingkungan.

Indonesia terkenal kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk jenis tumbuhan yang mengandung bahan aktif larvasida. Namun, pemanfaatan hanya 10 % dari 300.000 jenis tumbuhan yang ada. Kamandrah (C. tiglium L.) merupakan tanaman obat yang banyak ditemukan di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur dan daerah lain di Indonesia. Berdasarkan kearifan local, masyarakat banyak memanfaatkan biji C. tiglium L. sebagai obat pencahar, racun ikan, obat kembung dan pembunuh jentik nyamuk, daunnya sebagai obat penurun panas, sedangkan ranting/dahan dan batang sebagai pengusir nyamuk. Tanaman ini bila dieksplorasi dan dimanfaatkan tidak menutup kemungkinan dapat menjadi produk bahan baku industri farmasi dan larvasida, sehingga mempunyai nilai tambah dalam pengembangan agroindustri di daerah asalnya.

Ekstrak biji kamandrah cukup ampuh membunuh jentik nyamuk Ae. aegypti hingga 84% dengan LD50 sebesar 0,06%. Hasil identifikasi komponen minyak kamandrah dengan GC-MS menunjukkan adanya senyawa piperine yang merupakan suatu golongan alkaloid sejenis piperidine yang diduga sebagai larvasida/insektisida.  Minyak biji kamandrah dapat diekstrak dengan cara rendering, mekanis, atau menggunakan pelarut. Meskipun tanaman kamandrah berpotensi untuk dijadikan sebagai larvasida, namun pemanfaatannya masih terbatas sebagai tanaman perdu dan hingga saat ini belum dimanfaatkan secara luas, sehingga pengembangan tanaman ini perlu diupayakan oleh institusi terkait sebagai salah satu flora asli Indonesia yang mempunyai nilai tambah secara ekonomi.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com