Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Katam
pustaka
Suplemen Sinta
wbs
upg

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini698
mod_vvisit_counterKemarin795
mod_vvisit_counterMinggu ini3762
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir5091
mod_vvisit_counterBulan ini17762
mod_vvisit_counterBulan Terakhir23925
mod_vvisit_counterSemua hari1032554

Online (20 menit yang lalu): 17
IP Anda: 34.236.190.216
,
Hari ini: 22 Agus, 2019
LIESA, antara Teknologi dan Kebutuhan Petani di Kalimantan Timur PDF Cetak E-mail
Oleh Agus HW, Nurbani, Tarbiyatul dan Mulni Erfa   
Jumat, 16 Desember 2011 07:46

Keberhasilan penerapan Revolusi hijau selain telah berhasil meningkatkan produktifitas, dalam jangka panjang ternyata menimbulkan dampak negatif sebagai akibat pemakaian pupuk kimia dan pestisida yang terus menerus yang menimbulkan kerusakan lingkungan baik Abiotik (kimia maupun fisik tanah), Biotik (biologis tanah),maupun Kultur (ketergantungan iptek, ekonomi, budaya, dan politik).
Memasuki abad 21, aspek lingkungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Gaya hidup sehat dengan slogan “Back to Nature” telah menjadi trend baru masyarakat dunia. Orang semakin menyadari bahwa penggunaan bahan-bahan kimia non-alami, seperti pupuk dan pestisida kimia sintesis serta hormon tumbuh dalam produksi pertanian ternyata menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. 
Gaya hidup demikian telah mengalami pelembagaan secara internasional yang diwujudkan melalui regulasi perdagangan global yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus mempunyai atribut aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Adanya preferensi konsumen inilah yang menyebabkan permintaan produk pertanian organik di seluruh dunia tumbuh pesat. 
Prospek Sistim Pertanian Terpadu (An Integrated Farming System) dengan menggunakan bahan agrokimia (pupuk dan pestisida kimia) secara terbatas yang dipadukan/diintegrasikan dengan bahan-bahan alami serta ramah lingkungan yang dikenal dengan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) diharapkan menjadi arah baru bagi sisitim pertanian konvensional sehingga kita mampu keluar dari krisis multidemensi yang masih berlangsung saat ini bahkan mampu menghadapi pasar global yang sudah berada di depan mata.

Untuk itu, pada tanggal 14 Desember 2011 telah dilakukan Seminar Hasil Kajian Peningkatan Produktivitas Padi Sawah dengan Teknologi LEISA di Kabupaten Kutai Kartanegara. Acara yang dihadiri oleh para pemegang kebijakan teknis lingkup SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) se Kabupaten Kutai Kartanegara, Penyuluh dan para petani tersebut dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bupati Kutai Kartanegara Bidang Kesra, Bapak M. Indra didampingi oleh Kepala Balitbangda Kutai Kartanegara, Bapak Ir. Bahteramsyah, MM.
Dalam pemaparan hasil kajian oleh Tim Peneliti dari BPTP Kaltim, yaitu Ir. Nurbani (KSPP BPTP Kaltim), Ir. Agus Heru Widodo, M.Sc dan Ir. Tarbiyatul. M, M.Si, dijelaskan bahwa Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) yang berwawasan lingkungan menurut difinisi dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, kedalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu generasi masa kini dan generasi masa depan.
Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture), menurut FAO (1989) merupakan pengolahan dan konservasi sumber daya alam dan orientasi perubahan tekhnologi dan kelembagaan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang. Dengan demikian Pembangunan disektor pertanian, kehutanan dan perikanan harus mampu mengkonservasikan tanah, air, tanaman dan sumber genetik binatang, tidak merusak lingkungan, secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak, dan secara sosial dapat diterima.
Konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) sebagai arah baru bagi pertanian konvensional (HEIA : High External Input Agriculture), sangat cocok dilaksanakan pada sistim pertanian negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengingat negara kita dengan kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam yang terkandung di tanah air kita sangat memungkinkan konsep LEISA ini menjadi konsep pertanian masa depan yang diharapkan mampu mengantarkan bangsa kita menjadi bangsa yang besar dengan tingkat kemakmuran dan kemandirian yang lestari sehingga mampu bersaing menghadapi persaingan bebas pada waktu yang akan datang. 
Konsep LEISA merupakan penggabungan dua prinsip yaitu agro-ekologi serta pengetahuan dan praktek pertanian masyarakat setempat/tradisional. Agro-ekologi merupakan studi holistik tentang ekosistim pertanian termasuk semua unsur lingkungan dan manusia. Dengan pemahaman akan hubungan dan proses ekologi, agroekosistim dapat dimanipulasi guna peningkatan produksi agar dapat menghasilkan secara berkelanjutan, dengan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan bagi lingkungan maupun sosial serta meminimalkan input eksternal. 
Mempertimbangkan faktor pendukung yang tersedia dan kendala yang ada di lapangan maka prospek pengembangan sistem usaha tani dengan konsep penggunaan input rendah seyogyanya dapat dilaksanakan namun karena keterbatasan petani akan teknologi pengomposan maka bahan organik yang melimpah di lahan sawah belum termanfaatkan. Untuk itu diperlukan beberapa tidak lanjut di lapangan yaitu memotivasi agar petani dapat mengembangkan teknologi kompos secara sederhana dan penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu baik dengan memenfaatkan bahan organik insitu maupun dengan penggunaan input rendah agar produktifitas tanaman dan kesuburan tanah dapat terjaga secara berkelanjutan. 
Acara Seminar Hasil tersebut juga dilanjutkan dengan diskusi diantara peserta, terutama oleh para petani yang datang dari kecamatan Loa Kulu, Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Janan dan Kota Bangun, diskusi yang cukup menarik ini menjadi ajang bagi para petani untuk menggali ilmu dan pengalaman baru di dalam menggelola usaha taninya. Pada akhir pelaksanaan Seminar Hasil dilakukan praktek pembuatan kompos yang didampingi oleh Tim Peneliti dari BPTP Kaltim.
Terima kasih kami sampaikan Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara, dalam hal ini Balitbangda Kabupaten Kutai Kartanegara yang telah mempercayakan kepada BPTP Kaltim sebagai pelaksana kegiatan ini di lapangan serta para petani di lapangan yang telah bekerjasama dan berbagi informasi dengan Tim Peneliti dari BPTP Kaltim
Di akhir tulisan ini, kami selaku Peneliti dari BPTP Kaltim merasakan bahwa para petani khususnya di Kalimantan Timur sangat membutuhkan sentuhan dan inovasi teknologi pertanian di dalam mengelola usaha taninya. Semangat petani untuk menghasilkan produksi pangan yang terbaik membangkitkan semangat kami pula sebagai Peneliti untuk menghasilkan inovasi dan teknologi yang terbaik, tepat guna dan ramah lingkungan. Semoga yang sedikit ini dari apa yang telah kami lakukan dapat membawa kebaikan bagi orang lain, sebagaimana sabda Rasulallah yakni Khairun Naasi Anfa’uhum Linnaas, sebaik baik manusia adalah siapa yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Maju terus BPTP Kaltim.......sebagian tanggung jawab negara ini ada di pundak kita sebagai Peneliti.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com