Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Portal PPID
wbs
pustaka
Katam
Suplemen Sinta
LPSE
upg

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini134
mod_vvisit_counterKemarin1427
mod_vvisit_counterMinggu ini1561
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir13260
mod_vvisit_counterBulan ini7558
mod_vvisit_counterBulan Terakhir49821
mod_vvisit_counterSemua hari2055268

Online (20 menit yang lalu): 11
IP Anda: 3.81.89.248
,
Hari ini: 05 Des, 2021
Jarwo, Terbukti Tingkatkan Produksi Padi di Manunggal Jaya PDF Cetak E-mail
Oleh Rina D   
Selasa, 16 Februari 2021 09:06

Padi merupakan tanaman pangan yang memegang peran penting bagi masyarakat Indonesia. Untuk itulah peningkatan produksi padi menjadi hal yang harus dilakukan oleh petani, penyuluh pertanian, serta stakeholders terkait. Cara efektif dan efisien dalam peningkatan produksi padi nasional secara berkelanjutan yaitu peningkatan produktivitas melalui pemilihan komponen teknologi dengan memperhatikan lingkungan biotik, abiotik, dan pengelolaan yang maksimal (Makarim dan Las, 2005). Teknik budidaya yang tepat salah satunya dengan pemilihan metode tanam yang tepat, tidak hanya dengan penerapan varietas unggul yang sering dilakukan (Yoshie dan Rita, 2010).

Penerapan sistem tanam jajar legowo (jarwo) merupakan perbaikan sistem tanam dengan inovasi dan teknologi yang diharapkan mampu meningkatkan produktifitas tanaman padi. Prinsip dari sistem tanam jarwo yaitu pengaturan jarak tanam dengan baris kosong serta meningkatkan populasi tanaman. Jarwo merupakan sistem tanam yang telah lama dikenal oleh petani. Selain penerapan jarwo, penggunaan varietas unggul disinyalir dapat meningkatkan produksi padi (Abdulrachman, 2013). Ada beberapa tipe sistem tanam jarwo, yaitu jarwo 2:1, 3:1, 4:1, hingga 12:1.


Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu sentra produksi padi di Kalimantan Timur, disamping Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser. Kegiatan Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Inovasi yang dilaksanakan di Desa Manunggal Jaya, Kec. Tenggarong Seberang, Kab. Kutai Kartanegara bulan Juni-September 2020 dilaksanakan oleh 4 (empat) kelompok tani (poktan), yaitu Poktan Sumber Rejeki Putra, Poktan Sumber Rejeki, Poktan Sidomaju, dan Poktan Rukun Karya. Varietas yang ditanam adalah Inpari 30. Salah satu tujuan yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah mengetahui pengaruh perbedaan sistem tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi varietas Inpari 30.

Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah sebagai berikut:

  1. Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30% yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro.
  2. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/ lorong.
  3. Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan.
  4. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.
  5. Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir. Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil.

 

Pengamatan dilaksanakan pada 30 hst, 60 hst, dan 90 hst. Pada 15 hst tidak dilakukan pengamatan dikarenakan kondisi air yang cukup tinggi. Namun, tanaman padi bisa diselamatkan. Hal ini sesuai dengan deskripsi varietas Inpari 30 yang tahan terhadap rendaman (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2012). Berikut disajikan rata-rata tinggi tanaman pada masing-masing sitem tanam:

Tinggi Tanaman

Tabel 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Pada 3 Perlakuan Sistem Tanam

Sistem Tanam

30 hst (cm)

60 hst (cm)

90 hst (cm)

Tegel (30cm x 30cm)

64,6

94,1

115,1

Jarwo 2:1

64,7

102,2

110,5

Jarwo 4:1

78,8

108,2

113,4

Sumber: Analisis Data Primer, 2020

Dari tabel di atas, tinggi tanaman pada masing-masing perlakuan secara statistik tidak berbeda nyata antara sistem tanam tegel, jarwo 2:1, maupun jarwo 4:1. Pada dasarnya tinggi tanaman merupakan sifat genetik yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat tumbuh dan cara budidaya. Variasi tinggi tanaman yang terjadi antar varietas disebabkan karena setiap varietas memiliki faktor genetik dan karakter yang berbeda (Sugeng, 2001). Dari deskripsi varietas, Inpari 30 memiliki tinggi tanaman 101 cm, sedangkan dari tabel di atas rata-rata tinggi tanaman akhir lebih dari 101 cm. Hal ini menunjukkan jika varietas tersebut adaptif di lokasi Desa Manunggal Jaya.

Jumlah Anakan

Tabel 2. Rata-Rata Jumlah Anakan Pada 3 Perlakuan Sistem Tanam

Sistem Tanam

30 hst (batang)

60 hst (batang)

90 hst (batang)

Tegel (30cm x 30cm)

12,1

16,6

19,5

Jarwo 2:1

19,5

22,8

25,4

Jarwo 4:1

13,9

16,5

18,5

Sumber: Analisis Data Primer, 2020

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa untuk sistem tanam jarwo 2:1 jumlah anakan lebih sedikit dibandingkan dengan sistem tanam tegel. Menurut Husana (2010), jumlah anakan akan maksimal apabila tanaman memiliki sifat genetik yang baik ditambah dengan keadaan lingkungan yang menguntungkan atau sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jumlah anakan pada saat pertumbuhan diharapkan semua produktif menghasilkan malai, karena anakan produktif nantinya merupakan salah satu yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil gabah (Simanulang, 2001). Jumlah anakan maksimum juga ditentukan oleh jarak tanam karena jarak tanam menentukan jumlah sinar matahari dan hara yang diserap oleh tanaman.

Jarak tanam renggang dapat menghasilkan kualitas hasil yang baik, terutama pada lahan yang subur. Menurut Resiworo (1992) bahwa tanaman pada tanah yang subur tumbuh lebih tinggi dan membutuhkan ruang tumbuh yang luas, sedangkan untuk tanah yang kurang subur atau marginal, jarak tanam yang digunakan rapat disebabkan pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi dan ruang tumbuh yang dibutuhkan tidak luas.

Jumlah Anakan Produktif

Tabel 3. Rata-Rata Jumlah Anakan Tidak Produktif

Sistem Tanam

Rata-rata Jumlah anakan

Rata-rata anakan tidak produktif

Tegel (30cm x 30cm)

19,5

3,7

Jarwo 2:1

25,4

0,8

Jarwo 4:1

18,5

1,7

Sumber: Analisis Data Primer, 2020

Anakan tidak produktif adalah anakan yang tidak menghasilkan malai, sehingga akan berpengaruh pada produktifitas. Dari data di atas terlihat bahwa untuk sistem tanam jarwo 2:1, rata-rata anakan tidak produktif 0,8 saja. Ini menunjukkan bahwa banyak anakan yang menghasilkan malai. Sedangkan pada sistem tanam tegel, rata-rata anakan tidak produktif 3,7. Ini menunjukkan anakan yang tidak menghasilkan malai cukup besar, yang tentunya sangat berpengaruh pada produktifitas. Dan setelah ditelaah lebih lanut, pada sistem tanam tegel dan jarwo 4:1 terdapat serangan tikus.

Jumlah malai merupakan salah satu indikator produksi tanaman. Jumlah malai akan mempengaruhi bobot kering gabah. Semakin banyak malai, semakin banyak pula menghasilkan bulir-bulir gabah.

Panjang Malai

Tabel 4. Rata-Rata Panjang Malai

Sistem Tanam

Rata-rata Panjang Malai (cm)

Tegel (30cm x 30cm)

26

Jarwo 2:1

26,2

Jarwo 4:1

26,3

Sumber: Analisis Data Primer, 2020

Dari data rata-rata panjang malai di atas, dari ke-3 sistem tanam tidak terdapat perbedaan yang nyata. Untuk panjang malai rata-rata ke-3-nya hampir sepadan. Hal ini kemungkinan karena varietas yang digunakan sama, yaitu Inpari 30. Jadi dari segi pertumbuhan malai, hampir tidak ada perbedaan yang nyata.

 

Jumlah Bulir Per-Malai

Tabel 5. Rata-Rata Jumlah Bulir Per-malai

Sistem Tanam

Rata-rata Jumlah Bulir Per-Malai (butir)

Tegel (30cm x 30cm)

132

Jarwo 2:1

158

Jarwo 4:1

130

Sumber: Analisis Data Primer, 2020

Dari tabel 5 di atas, dapat dilihat bahwa untuk sistem tanam jarwo 2:1 jumlah bulir per-malai lebih banyak dibandingkan tegel dan jarwo 4:1. Pada fase generatif terdapat serangan tikus pada sistem tanam tegel dan jarwo 4:1, yang tentunya juga akan berpengaruh pada bulir yang dihasilkan.

 

Hasil Ubinan

Tabel 6. Hasil Ubinan dan Perkiraan Produktifitas Per-Ha

Sistem Tanam

Hasil Ubinan (kg)

Perkiraan Produktifitas (ton/Ha)

Tegel (30cm x 30cm)

3,7

5,92

Jarwo 2:1

4,92

7,87

Jarwo 4:1

4,13

6,61

Sumber: Analisis Data Primer, 2020

Berhasil atau tidaknya usaha tani padi yang paling penting adaah dilihat dari panen. Dari hasil ubinan ke-3 sistem tanam, jarwo 2:1 menunjukkan hasil yang paling tinggi yaitu setara 7,87 ton/Ha GKP. Ini sudah sesuai dengan deskripsi Inpari 30 dimana rata-rata hasil adalah 7,2 ton/Ha.

 

Sumber Bacaan:

Abdulrachman, S. et al. 2013. Sistem Tanam Legowo. Sukamandi : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2012. Deskripsi Varietas Inpari 30 Ciherang Sub 1. Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian. Sukamandi.

Hanafie, Rita. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. CV Andi Offset. 308 hlm.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2016. http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/info-teknologi/prinsip-dan-populasi-sistem-tanam-jajar-legowo. Diakses Pada 20 September 2020

._______ 2020. https://rmco.id/baca-berita/nasional/26765/petani-jangan-takut-banjir-padi-inpari-30-tahan-rendaman-sampai-15-hari. Diakses Pada 20 September 2020.

Husana, Y. 2010. Pengaruh Penggunaan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah (Oryza sativa L.) Varietas IR 42 Dengan Metode SRI (System of Rice Intensification). Jurnal Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau 9:2-7.

Makarim, A.K. & I. Las. 2005. Terobosan Peningkatan Produktifitas Padi Sawah Irigasi Melalui Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Hal 115-127.

Resiworo, Dad JS. 1992. Pengendalian Gulma Dengan Pengaturan Jarak Tanam. Prosiding Konferensi Himpunan Ilmu Gulma Indonesia. Ujung Pandang.

Saragih, Bernatal. 2018. Hari Pangan Sedunia dan Refleksi Pembangunan Ketahanan Pangan Kalimantan Timur. Guru Besar Bidang Ilmu Pangan dan Gizi Universitas Mulawarman, Pokja Ahli Dewan Ahli, Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltim dan Ketua Perhimpunan Ahli Pangan dan Gizi Kalimantan Timur. https://www.researchgate.net/publication /328851335_Hari Pangan Sedunia dan Refleksi Pembangunan Ketahanan Pangan Kalimantan Timur. Diakses pada 25 Juni 2019.

Simanulang, ZA. 2001. Kriteria Seleksi Untuk Sifat Agronomis dan Mutu Pelatihan dan Koordinasi Program Pemuliaan Partisipatif (Shuttle Breeding) dan Uji Multi Lokasi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi.

Sugeng, HR. 2001. Bercocok Tanam Tanaman Padi. CV Aneka Ilmu. Semarang.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com