Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
cybex
wbs
Suplemen Sinta
Katam
pustaka

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini788
mod_vvisit_counterKemarin823
mod_vvisit_counterMinggu ini1611
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir4581
mod_vvisit_counterBulan ini13371
mod_vvisit_counterBulan Terakhir24889
mod_vvisit_counterSemua hari833129

Online (20 menit yang lalu): 8
IP Anda: 54.91.203.233
,
Hari ini: 19 Nov, 2018
Penyakit Sapi Gila pada Ternak Ruminansia PDF Cetak E-mail
Oleh Sionita   
Kamis, 28 Juni 2018 07:26

Bovine Spongioform Enchepalopathy (BSE) atau yang biasa disebut penyakit sapi gila merupakan penyakit yang bersifat menular, berkembang secara perlahan, degenerative dan fatal yang menyerang sistem saraf pusat (otak) dari ternak sapi dewasa. Para peneliti menyakini bahwa agen penyakit yang menyebabkan penyakit ini adalah protein abnormal yang berada di permukaan sel yang dinamakan “prion”. Untuk penyebab yang masih belum diketahui, protein ini mengubah dan menghancurkan jaringan sistem saraf yakni otak dan sumsum tulang. Selain ternak sapi, ternak lain yang termasuk ruminansia juga memiliki resiko terhadap penyakit ini yakni kerbau, kambing dan domba.

Penyakit ini menyerang dan merusak sistem saraf pusat sehingga menyebabkan terjadinya perubahan perilaku pada ternak. Oleh karenanya penyakit ini sering disebut dengan “sapi gila”. Perubahan tingkah laku yang dimaksud yakni agresif atau perilaku yang berbeda dari biasanya, mudah gugup, ternak menjadi lebih sulit untuk dikendalikan, dan mulai memperlihatkan reksi yang aneh setiap hari. Ternak yang mengalami gejala tahap ringan sampai sedang memiliki postur normal namun mulai terlihat masalah koordinasi/gerak serta terlihat seperti pusing (kepala bergerak-gerak tidak teratur). Saat ternak berada dalam posisi berbaring akan mengalami kesulitan untuk bangun. Selain itu terjadi penurunan produksi susu dan bobot badan walaupun pakan yang diberikan adalah yang terbaik.

Ternak ruminansia adalah ternak yang pada dasarnya termasuk hewan herbivora yakni hewan yang murni memakan hijauan/tumbuhan sebagai kebutuhan utamanya. Namun pada penyakit ini, ternak sapi tersebut diberikan pakan yang mengandung bahan asal ternak sapi lain yakni biasanya dari tepung tulang / Meat Bone Meal (MBM) sebagai tambahan sumber protein. Tujuan pemberian tambahan protein adalah untuk meningkatkan produksi ternak baik susu, daging maupun dalam bereproduksi. Di negara-negara Eropa dan Amerika sapi perah merupakan ternak yang banyak mengalami penyakit ini dikarenakan penambahan protein MBM untuk meningkatkan produksi susu.

Di Indonesia, tepung tulang / MBM merupakan bahan tambahan yang lazim terdapat di dalam pakan konsentrat ternak unggas dan babi. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa pakan konsentrat unggas dan babi tersebut dapat diberikan kepada ternak ruminansia untuk meningkatkan produksi. Namun Kementerian Pertanian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 22/Permentan/PK.110/6/2017 tentang Pendaftaran dan Peredaran Pakan, di mana pada pasal 27 berbunyi “Pada kemasan Pakan unggas dan Pakan babi wajib dicantumkan frasa “DILARANG DIGUNAKAN UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA (SAPI, KERBAU, KAMBING, DAN DOMBA)”, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diberi warna merah. “ Dengan adanya peraturan tersebut maka memang konsentrat unggas dan babi tidak boleh diberikan kepada ternak lain terutama ruminansia.

Penyakit sapi gila ini dapat ditemukan pada manusia disebut dengan variant Creutzfeldt-Jacob disease (vCJD) yang dipercaya dikarenakan memakan produk asal ternak sapi yang terkontaminasi dengan jaringan sistem saraf pusat seperti otak dan sumsum tulang belakang dari ternak yang terinfeksi dengan penyakit sapi gila. Oleh karenanya sebaiknya dilakukan pemisahan otak dan sumsum tulang belakang pada ternak yang memiliki resiko tinggi untuk kasus ini, yakni ternak tua dan ternak yang menunjukkan gejala saraf seperti tidak bisa berjalan. Perlakuan pemanasan pada saat memasak makanan tidak mampu menghilangkan agen penyakit yang terdapat pada bahan pangan asal hewan tersebut. Di Rumah Pemotongan Hewan di Indonesia, sebelum dilakukan pemotongan hewan dilakukan pemeriksaan antemortem/sebelum mati oleh petugas yang berwenang. Hewan yang sakit atau memiliki resiko tinggi menyebarkan penyakit diperiksa dengan seksama untuk kemudian ditindak sesuai dengan prosedur standar operasional yang berlaku.

 

 

 

 

Sumber gambar :

http://veterinaryone.blogspot.com/2017/01/bovine-spongiform-encephalopathy.html

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com