Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
pustaka
Katam
wbs
Suplemen Sinta
upg

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini242
mod_vvisit_counterKemarin774
mod_vvisit_counterMinggu ini4766
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir7397
mod_vvisit_counterBulan ini18088
mod_vvisit_counterBulan Terakhir28118
mod_vvisit_counterSemua hari1085643

Online (20 menit yang lalu): 18
IP Anda: 3.85.245.126
,
Hari ini: 18 Okt, 2019
Pengendalian Tikus Pada Tanaman Padi PDF Cetak E-mail
Oleh Rina D   
Kamis, 01 Oktober 2015 11:20

Tikus merupakan hama yang cukup menimbulkan kerugian bagi usaha budidaya pertanian. Gangguan hama ini sudah dimulai sejak dari persemaian hingga penyimpakan di dalam gudang. Tikus dapat berkembang dengan cepat apabila mata rantai makanannya tidak terputus dan tikus juga mempunyai kemampuan untuk beradaptasi bilamana rantai makanannya terputus dengan alternatif mencari rantai makanan lainnya. Serangan tikus hampir menimpa di seluruh wilayah di Indonesia. Apabila tidak dilakukan upaya pengendalian, maka akan menimbulkan kerugian yang cukup besar dan berdampak tidak tercapainya hasil yang optimal.

Pola Makan Tikus

Tikus memiliki sifat pemakan yang rakus tidak hanya padi, akan tetapi juga menyerang berbagai macam hasil pertanian yang lainnya seperti jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, tebu, kelapa dan sebagainya. Bila mana tidak tersedia cukup makanan tikus dapat memakan apa saja, yang terpenting bagi tikus adalam pemenuhan kebutuhan karbohidrat. Adakalanya tikus juga akan memakan jenis-jenis serangga, siput, bangkai ikan dan makanan hewan lainnya. Makanan jenis hewan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan hampir seluruh waktu yang digunakan untuk makan yaitu pada malam hari.

Beberapa jenis tikus yang di kenal merusak usaha budidaya pertaninan adalah Rattus argentiventer, Rattus-rattus diardi, Rattus exultant dan Rattus norvegikus. Dua jenis tikus yang pertama di sebutkan dapat merusak usaha budidaya pertanian dari mulai proses penanaman benih hingga hasil jadi produk pertaninan yang disimpan di dalam gudang.

 

Marfologi Tikus Sawah (Rattus argentiventer)

Tubuh tikus ini umumnya berwarna kelabu gelap dengan dada berwarna keputihan. Panjang badan tikus sawah dari hidung sampai ujung ekor berkisar 270 -370 mm dengan berat sekitar 130 gr. Panjang ekor sama atau lebih pendek dari panjang badan. Tikus sawah mempunyai 6 pasang puting susu yang terletak dikiri dan kanan pada bahagian perut memanjang sepanjang badan. Tikus sawah dapat berkembang biak mulai pada umur 1,5 – 5 bulan setelah kawin, masa bunting memerlukan waktu 21 hari. Seekor tikus betina dapat melahirkan 8 ekor anak setiap melahirkan, dan mampu kawin lagi dalam tempo 48 jam setelah melahirkan serta mampu hamil dan menyusui dalam waktu bersamaan. Selama satu tahun satu ekor betina dapat melahirkan sampai 4 kali, sehingga dalam satu tahun dapat melahirkan sampai 32 ekor anak. Seekor tikus betina dapat bunting sebanyak 6- 8 kali dan perkehamilan bisa melahirkan sekitar 10 ekor sehingga satu ekor tikus betina berpotensi berkembang biak hingga 80 ekor per satu musim tanam.

Marfologi Tikus Semak (Rattus exultant)

Tikus ini hidup di semak-semak, padang rumput dan huma. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari tikus sawah. Panjang badannya dari hidung sampai ujung ekornya berkisar antara 220-285 mm. Panjang ekor sama atau lebih panjang dari badannya. Puting susunya adalah 2 pasang dikiri dan dikanan sehingga puting susu berjumlah delapan. Tikus semak pandai memanjat, bahagian atas badannya warna kelabu dan bahagian bawahnya berwarna putih kelabu. Tikus ini sering didapat disemak-semak, dirumah dan dipinggir-pinggir hutan namun kurang suka di daerah banyak air.

Perilaku Hidup Tikus

Tikus termasuk hama yang agak sulit dikendalikan karena hama ini mempunyai indra penciuman, peraba dan pendengaran yang tajam, gerakan untuk melakukan kegiatan dimalam hari terutama dituntun oleh misai dan bulu-bulu yang tumbuh panjang. Hama ini sering mengerat terutama di malam hari, yang dikerat biasanya benda-benda keras tujuan utamanya adalah untuk mempertajam gigi seri dan memelihara gigi seri agar selalu tumbuh normal. Apabila gigi serinya dibiarkan maka gigi seri tersebut dapat mengganggu kegiatan makannya. gigi serinya dapat tumbuh mencapai 15-25 mm Perkembangbiakan tikus sangat ditentukan oleh kondisi tersedianya makanan. Musim hujan dengan persediaan makanan cukup tikus akan berkembang pesat dan pada musim kemarau perkembang biakannya akan sangat terhambat bahkan dapat terhenti.

Tempat Hidup Tikus

Tikus lebih suka hidup di tempat yang tersedia makanan cukup dan di daerah-daerah semak yang dapat memberi perlindungan. Di daerah yang bervegetasi mereka sangat senang karena dapat memenuhi kedua kebutuhan tersebut. Tikus sawah merupakan binatang yang sangat pandai membuat liang untuk bersarang. Liang sangat berfungsi sebagai tempat berlindung dan melahirkan anak-anaknya serta menimbun makanan. Liang dibuat pada saat masa perkawinan dengan bentuk berlekuk-lekuk di bawah tanah sedalam 0,5 meter dan panjangnya terkadang dapat mencapai 10 meter tergantung pada perkembangan jumlah kelompoknya. Tikus yang akan melahirkan akan mengurung diri dalam liang dan menutup pintu masuk dengan tanah galian. Tutup ini akan dibuka apabila anak-anaknya sudah mulai membesar dan mampu bergerak sendiri. Lubang tikus tidak selalu dihuni, terutama pada waktu persediaan makanan kurang atau bencana banjir. Tikus biasanya mengembara atau membuat sarang baru atau menempati lubang lama disekitar tanggul irigasi, pekarangan rumah, sekitar gudang padi, kebun tebu semak belukar, perkuburan dan tempat-tempat tanah yang tinggi. Anehnya liang yang ditinggalkan tidak digunakan oleh tikus lain kecuali tempat berlindung atau berteduh.

Kerusakan Akibat Serangan Hama Tikus

Tikus dapat menyerang beberapa jenis tanaman seperti padi, kacang tanah, kedelai, ubi kayu,ubi jalar, tebu kelapa. Tetapi tanaman yang sering diserang dan paling disenangi adalah padi. Serangan pada tanaman padi memperlihatkan pada bahagian batangnya terpotong. Bila serangan hama ini terjadi pada vase vegetatif, seekor tikus dapat merusak tanaman antara 11-176 batang padi per malam. Pada saat bunting kemampuaan merusak meningkat menjadi 24-246 batang per malam. Besarnya kerugian yang disebabkan oleh tikus ditentukan oleh banyaknya anakan yang gagal menghasilkan malai masak pada waktu panen.

Berikut ini merupakan pengendalian dengan cara yang tepat pada saat yang tepat sesuai fase kegiatan dalam usaha tani padi yang dikaitkan dengan siklus kehidupan tikus:

1. Saat selepas panen sampai persiapan dan pengolahan tanah

Mengendalikan tikus pada saat selepas panen, ketika tikus masih ada di dalam galengan dan sekitar petakan dengan jumlah rata-rata perlubang 25-30 ekor tikus, sementara makanan masih tersedia dari sisa panen berupa gabah yang tercecer dan pada tumpukan padi. Pada saat ini, pengendalian yang tepat adalah pengemposan dan gropyokan. Apabila tidak dilakukan pengendalian pada saat selepas panen ini, maka semua tikus yang ada dalam lubang akan tumbuh dewasa dan akan berkeliaran.

2. Pengolahan tanah

Menjelang pengolahan tanah sebaiknya seluruh lahan dikeringkan, agar tikus yang masih tinggal di petakan dan galengan merasa kehausan. Pada saat itu gabah yang tertinggal di lapangan sudah tumbuh sehingga makanan tikus mulai berkurang. Pengendalian yang tepat pada kondisi ini adalah pengumpanan dan gropyokan di malam hari.

3. Persemaian

Persemaian sebaiknya dipagar plastic yang dilengkapi dengan bubu perangkap tikus. Bubu perangkap tikus yang berukuran panjang 65 cm, lebar 24 cm, dan tinggi 24 cm memiliki kapasitas 20-30 ekor/ malam tergantung banyaknya populasi tikus. Untuk 500 m² persemaian cukup dipasang 4 bubu perangkap. Apabila sebelum tanam tidak dilakukan pengendalian, maka pada fase tanam sampai berikutnya akan terus terjadi serangan.

4. Fase vegetatif

Kondisi tanaman pada fase vegeatif adalah tanaman sudah rimbun/ anakan maksimum, galengan kotor, tanaman merupakan makanan bagi tikus, fase awal tikus membuat lubang di galengan. Fase ini merupakan kondisi yang sangat sulit untuk mengadakan pengendalian yang efektif. Upaya pengendalian yang tepat adalah dengan pengumpanan menggunakan klerat dan memakai umpan pembawa “yuyu”, tempatkan umpan pada jalan tikus lewat dan pasang pagar palstik dengan bubu perangkapnya.

5. Fase generatif dan menjelang panen

Pada fase ini umumnya tikus pada fase beranak dan berada di dalam lubang. Kondisi pada fase generatif adalah makanan sudah tersedia dan galengan semakin kotor. Pengendalian untuk tikus yang sudah menetap di lubang dengan cara pengemposan.

6. Panen

Apabila padi sudah berisi dan menguning, maka pengendalian yang paling tepat adalah dengan cara pengeringan total. Dalam keadaan kering, tikus akan mengurangi makan dan tikus tidak bisa makan kalau tidak disertai minum. Pengemposan dapat dilakukan untuk mengendalikan tikus yang ada dalam lubang.

 

Dalam pengendalian tikus perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Kedisiplinan para pelaku utama dalam praktek pengendalian sesuai siklus perkembangan tikus.
  2. Melaksanakan tanam serempak (maksimal selisih 2 minggu) dan melakukan sanitasi atau kebersihan lingkungan dan mempersempit ukuran tanggul dan pematang agar tikus tidak mudah membuat sarang.
  3. Jangan mengembangkan sikap masa bodoh dan acuh tak acuh yang kalau melihat lubang tikus atau gejala serangan di luar garapan yang dimiliki, karena tikus memiliki daya jelajah semalam bisa mencapai 500-1000 m.
  4. Perkembangan hama tikus yang sangat cepat, dari sepasang tikus dalam setahun bisa mencapai 2800 ekor lebih.
  5. Menanam tanaman yang berbau tajam, seperti kemangi atau serai yang tidak disukai oleh tikus di sepanjang pematang.
  6. Membersihkan jatuhan bulir padi saat panen dan tidak menumpuk jerami sisa panen.
  7. Jangan membunuh predator seperti ular sawah, burung hantu (Tito Alba), burung elang, gagak, musang sawah karena predator ini akan memangsa tikus.

Apabila dari awal musim tanam sudah dilakukan pengendalian secara tepat pada saat yang tepat, maka pada fase-fase berikutnya tikus semakin berkurang, sehingga peluang keberhasilan panen semakin besar.

 

Sumber: Dari berbagai sumber

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com