Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
wbs
upg
Katam
Suplemen Sinta
pustaka

Media Sosial

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini650
mod_vvisit_counterKemarin759
mod_vvisit_counterMinggu ini4400
mod_vvisit_counterMinggu Terakhir7397
mod_vvisit_counterBulan ini17722
mod_vvisit_counterBulan Terakhir28118
mod_vvisit_counterSemua hari1085277

Online (20 menit yang lalu): 15
IP Anda: 18.204.227.250
,
Hari ini: 17 Okt, 2019
Peningkatan Kualitas Hasil Tanaman Jeruk Melalui Teknologi Budidaya Yang Tepat PDF Cetak E-mail
Oleh Nurbani   
Kamis, 07 Agustus 2014 09:27

Jeruk merupakan salah satu jenis buah yang sangat diminati di pasaran, maka tidaklah berlebihan jika menyatakan bahwa jeruk adalah komoditas buah unggulan nasional karena memiliki nilai ekonomi tinggi, adaptasinya sangat luas, sangat populer dan digemari hampir seluruh lapisan masyarakat, dan nilai impornya cenderung meningkat.  Akan tetapi bukan hal yang mudah dalam budidaya tanaman ini, karena kunci sukses usahatani jeruk tidak hanya bergantung pada bibit unggul, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan lokasi, penyiapan lahan dan pemeliharaan tanaman. Berikut cara budiaya tanaman jeruk yang baik :

 

1. Pemilihan lokasi

  • Tinggi tempat.

Meskipun adaptasinya luas, beberapa kelompok jeruk berproduksi optimal hanya jika ditanam di dataran rendah (≤ 400 m dpl) : pamelo, sebagian besar varietas Siam, keprok Tejakula dan Madura.  Sedangkan sebagian lain berproduksi optimal jika ditanaman di dataran tinggi (≤ 700 m dpl): jenis keprok (Batu 55, Tawangmangu, Pulung, Garut, Kacang, dll), jeruk manis (Punten, Groveri dan WNO, dll.), jeruk Siam Madu.

  • Iklim.

Tanaman jeruk menghendaki sinar matahari penuh (bebas naungan), suhu 13 - 35°C (optimum 22 - 23°C), curah hujan 1.000 - 3.000 mm/th (optimum 1.500 - 2.500 mm/th), dan bulan kering (< 60 mm) selama 2 - 6 bulan (optimum 3 - 4 bulan berturut-turut).

  • Tanah.

Lahan ideal yaitu memiliki lapisan tanah yang dalam, hingga kedalaman 150 cm tidak ada lapisan kedap air, kedalaman air tanah ± 75 cm, tekstur lempung berpasir, dan pH ± 6.  Jika pH tanah dibawah 5, unsur mikro dapat meracuni tanaman dan sebaliknya tanaman akan kekurangan jika pH diatas 7.

 

2.  Pemilihan Benih

Benih bermutu baik memiliki kriteria : hasil okulasi mata tempel dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) pada batang bawah Japansche Citroen (JC) di dalam polibag, berlabel, tinggi tanaman ± 75 cm, dan pertumbuhan serta perakarannya normal.

3.  Penyiapan lahan dan pemeliharaan

a. Pengolahan Tanah dan penanaman.

Sebelum tanam, lahan dibebaskan dari batuan dan pohon besar.  Untuk lahan sawah dan pasang surut, bidang tanam diolah menjadi surjan atau tukungan (gundukan = Jawa), sedangkan di lahan kering dibuat lubang tanam (dalam = 0,75 m, lebar atau panjang = 0,6 m). Jarak tanam  5 x 4 m2 (jeruk keprok), 5 x 6 m2 (jeruk manis), dan 6 x 7 m2 (pamelo).  Baris tanam diatur sejajar arah timur – barat agar penyebaran sinar matahari optimal.

Penutup lubang tanam dicampur pupuk kandang ± 20 kg/lubang atau dibuat campuran 3 bagian tanah + 1 bagian pasir + 2 bagian pupuk kandang jika tanahnya berat.  Tambahkan 1 kg dolomite jika pH tanah < 5,5.

Awal musim hujan adalah saat paling tepat untuk penanaman di lahan kering.  Setiap pohon dipasang ajir agar tanaman tetap tegak saat angin kencang.

b. Pengaturan cabang.

Arsitektur pohon jeruk perlu dibangun sejak dini dengan cara mengatur percabangan berpola 1 – 3 – 9. Setiap pohon terdiri 1 batang utama  yang mendukung 3 cabang primer, dan setiap cabang primer mendukung 3 cabang sekunder.

c.  Pengairan.

Saat pertumbuhan vegetatif baru, pembungaan dan pembentukan buah harus tersedia cukup air, dan setelah panen lahan dikeringkan sekitar 3 bulan guna memicu pembungaan. Semakin besar ukuran tanaman atau semakin kasar tekstur tanah, semakin banyak air yang dibutuhkan.  Pemasangan mulsa plastik hitam perak dapat menghemat air dan mengendalikan gulma di lahan kering.

d. Pemupukan.

Produksi optimal bisa dicapai jika tanaman tidak hanya diberi pupuk buatan tetapi juga pupuk organik.  Tanaman muda banyak membutuhkan pupuk N, tetapi saat memasuki usia produktif perlu N, P dan K yang berimbang (Tabel 1).

 

Tabel 1. Rekomendasi Umum Pemupukan Tanaman Jeruk

Umur (Th)

Gram/pohon

Aplikasi (1 Th)

N

P2O5

K2O

0 – 1

10 – 20

10

5

3 – 4 kali

1 – 2

20 – 40

10

5 – 10

3 – 4 kali

2 – 3

40 – 80

10 – 30

10 – 20

3 – 4 kali

3 – 4

80 -- 120

30 – 50

20 - 40

2 – 3 kali

4 – 5

120 – 160

50 – 80

40 - 60

2 kali

>5

0,8 % N + 0,4 %

2 % bobot panen

P2O5 + 0,8 % K2O

 

2 kali

 

Berikan pupuk kandang sekali setahun sebanyak 20 – 40 kg per pohon untuk umur 1 – 4 tahun dan 40 – 60 kg untuk umur diatas 4 tahun. Pupuk mikro diberikan 2 – 3 kali saat pertunasan dengan menyemprotkan senyawa atau pupuk daun yang mengandung unsur seng, tembaga, mangan, dan besi.

e. Penjarangan Buah.

Kegiatan ini bertujuan menghasilkan buah bermutu tinggi dan menjaga kestabilan produksi. Caranya yaitu sisakan 2 buah per tandan menggunakan gunting pangkas. Kriteria buah yang dibuang : cacat, terserang hama penyakit,  dan ukurannya paling kecil.

f.  Pengendalian Hama Penyakit.

Sampai sekarang penyakit CVPD belum bisa disembuhkan.  Pencegahanya adalah dengan menanam bibit yang sehat dan mengendalikan serangga kutu loncat (Diaphorina citri).  Penggunaan pestisida sebaiknya diprioritaskan pada periode kritis yaitu pada fase pertunasan.

 

4. Panen

Panen dilakukan saat buah mencapai kematangan optimal, sekitar 8 bulan dari pembungaan dan nilai brik sari buah sebesar 10%. Lakukan panen saat cuaca cerah, gunakan gunting pangkas, jangan memanjat pohon, dan masukkan buah kedalam keranjang yang dilapisi karung plastik.

 

5. Pascapanen

1. Pengumpulan

Di kebun, buah dikumpulkan di tempat yg teduh dan bersih. Pisahkan buah yg mutunya rendah, memar dan buang buah yg rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan berat buah yg biasanya terdiri atas 4 kelas. Kelas A adalah buah dgn diameter dan berat terbesar sedangkan kelas D memiliki diameter dan berat terkecil.

2. Penyortiran dan Penggolongan

Setelah buah dipetik dan dikumpulkan, selanjutnya buah disortasi/dipisahkan dari buah yg busuk. Kemudian buah jeruk digolongkan sesuai dgn ukuran dan jenisnya.

3. Penyimpanan

Untuk menyimpan buah jeruk, gunakan tempat yg sehat dan bersih dgn temperatur ruangan 8-10 derajat C.

4. Pengemasan

Sebelum pengiriman, buah dikemas di dalam keranjang bambu/kayu tebal yg tidak terlalu berat untuk kebutuhan lokal dan kardus untuk ekspor. Pengepakan jangan terlalu padat agar buah tidak rusak.  Buah disusun sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk ada ruang udara bebas tetapi buah tidak dapat bergerak. Wadah untuk mengemas jeruk berkapasitas 50-60 kg.

 

Terlepas dari semua hal diatas, maka tentu saja standar produksinya juga harus diperhatikan, yang meliputi : syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan. Adapun klasifikasi dan standar mutu jeruk terutama untuk komoditas jeruk keprok digolongkan dalam 4 (empat) ukuran yaitu kelas A, B, C dan D, berdasarkan berat tiap buah, yg masing-masing digolongkan dalam 2 (dua) jenis mutu, yaitu Mutu I dan Mutu II.

  • Kelas A: diameter  >7,1 cm atau  >151 gram/buah.
  • Kelas B: diameter 6,1–7,0 cm atau 101–150 gram/buah
  • Kelas C: diameter 5,1–6,0 cm atau 51–100 gram/buah
  • Kelas D: diameter 4,0–5,0 cm atau < 50 gram/buah

Saat telah adanya penerapan teknologi tanam yang baik, dan dengan didukung perhatian khusus pada peningkatan standar produksi, maka peningkatan harga jual komoditas jeruk bukanlah suatu hal yang mustahil. Dan jika hal itu, pada akhirnya jeruk bisa menjadi suatu komoditas yang menjanjikan di sektor ekonomi, yang tidak hanya bisa membawa perubahan positif pada ekonomi rumahtangga petani secara khusus, bahkan mungkin bisa membawa perubahan yang besar pada kestabilan ekonomi nasional kelak.

 

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com